ASEP News, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (28/04/2026) ─ Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menetapkan susunan kepengurusan Majelis Adat Sunda Jawa Barat (Masda Jabar) untuk periode 2026–2027. Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 430/Kep.120-Disparbud/2026 yang ditandatangani oleh Dedi Mulyadi pada 6 Maret 2026.
Dalam keputusan tersebut, Irjen Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan —yang akrab disapa Abah Anton—ditunjuk sebagai Ketua Umum merangkap anggota Masda Jabar. Selain dirinya, terdapat sebelas tokoh lain dari berbagai latar belakang akademisi, budayawan, dan praktisi yang turut mengisi keanggotaan lembaga tersebut.
Adapun sebelas tokoh lainnya yang masuk sebagai Anggota Majelis Adat Sunda Jawa Barat (Masda Jabar). Mereka adalah: Prof. Dr. Agus Aris Munandar,M.Hum.; Prof. Dr. Danny Hilman Natawijaya; Dr. Dra. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S.; Dr. Drs. Undang Darsa, M.Hum. ; Dr. H. D. Yadi Heryadi, Ir. M.Sc.; 7. RR. Okki Jusuf Judanagara, M.Sc., M.M.; Ir. H. Rd. Arief Abimanyu Wiradisuria, M.M.; Ir. Deden Hidayat; Ir. Roza Mintareja (Anggota), dan; Letkol. Purn Oman Rukmana, serta; Rd. Rulany Indra Gartika Rusadi Wirahaditenaya.
Pembentukan Majelis Adat Sunda ini dimaksudkan sebagai wadah representatif untuk menyalurkan aspirasi masyarakat adat, khususnya dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya Sunda di berbagai kampung adat. Dalam menjalankan perannya, Masda memiliki sejumlah fungsi utama, antara lain menjalin koordinasi dengan komunitas adat, merumuskan rekomendasi kebijakan pelestarian budaya, serta menyampaikan laporan kepada gubernur melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Masa bakti kepengurusan ini ditetapkan selama satu tahun sejak keputusan diberlakukan.
Sebagai langkah awal memperkuat sinergi kelembagaan, jajaran Masda Jabar melakukan audiensi dengan Ketua DPRD Jawa Barat, Buky Wibawa Karya Guna, pada 24 April 2026. Pertemuan yang berlangsung di ruang rapat pimpinan DPRD tersebut juga dihadiri Ketua Umum Masda Jabar dan sejumlah anggotanya, seperti Rd. Rulany Indra Gartika Rusadi Wirahaditenaya atau dikenal dengan sebutan Ully Sigar Rusadi, RR. Okki Jusuf Judanagara, dan lain-lain.

Dalam forum tersebut, Abah Anton menegaskan bahwa fokus utama Masda Jabar ke depan adalah menghidupkan kembali peran kampung adat sebagai pusat pelestarian budaya Sunda. Ia menilai, kampung adat tidak hanya menyimpan nilai tradisi, tetapi juga menjadi sumber kearifan lokal yang relevan dengan isu-isu modern seperti pelestarian lingkungan dan ketahanan pangan.
“Kampung adat adalah contoh nyata bagaimana manusia bisa hidup selaras dengan alam. Nilai-nilai ini penting untuk terus dijaga dan diwariskan,” ungkap Abah Anton.
Ketua Umum Masda Jabar juga berharap adanya dukungan konkret dari DPRD Jawa Barat agar berbagai program Masda dapat berjalan optimal, khususnya dalam memperkuat identitas budaya daerah di tengah arus modernisasi.

Menanggapi hal tersebut, Buky Wibawa Karya Guna menyatakan komitmennya untuk mendukung peran strategis Masda. Ia menekankan bahwa pembangunan di Jawa Barat saat ini diarahkan pada pendekatan berbasis budaya sebagai fondasi utama.
“Masda Jabar memiliki posisi penting sebagai mitra pemerintah dalam memastikan pembangunan tetap berakar pada nilai-nilai budaya lokal,” ujar Buky.
Salah satu anggota Masda, RR. Okki Jusuf Judanagara, menyampaikan bahwa pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah poin penting. Di antaranya adalah penegasan bahwa kampung adat merupakan “museum hidup” bagi masyarakat Sunda, pentingnya pelestarian ritual adat dalam aktivitas ekonomi tradisional, serta dorongan agar masyarakat semakin menyatu dengan budaya dan lingkungannya.

Selain itu, Masda Jabar juga didorong untuk berperan dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis lokal, membangun kemandirian masyarakat adat, serta membentuk tim budaya di berbagai wilayah sebagai upaya konkret pelestarian nilai-nilai tradisional.
Audiensi tersebut ditutup dengan penyerahan cenderamata dari Masda Jabar kepada Ketua DPRD, berupa pusaka keris Nagasasra serta produk khas Kampung Naga seperti gula kawung, pindang ikan tawes, dan madu. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai akhir pertemuan, yang ditutup dengan sesi foto bersama.
Melalui langkah ini, diharapkan keberadaan Masda Jabar mampu menjadi motor penggerak dalam menjaga kelestarian budaya Sunda sekaligus memperkuat pembangunan daerah yang berakar pada kearifan lokal.
***
Judul: Abah Anton Pimpin Masda Jabar, Dorong Kebangkitan Kampung Adat sebagai Pilar Budaya dan Ketahanan Pangan
Jurnalis: Asep Zaenal Mustofa (AZM)
Editor: Asep (HC) Arie Barajati












