Negeri Bidadari

Artikel ini ditulis oleh: Ki Asep Kuswani

Negeri Bidadari
Ilustrasi Negeri bidadari - (Sumber: Asep News)

ASEP NEWS, Kolom OPINI, Kamis (16/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul Negeri Bidadari” ini ditulis oleh: Ki Asep Kuswani alias Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS), Ketua Dewan Pembina (KDP) Paguyuban Asep Dunia (PAD),  Dewan Pembina Asosiasi Media Independen Online (MIO) Indonesia, dan founder Asep News (AsepNews.id).

Saudaraku, kali ini aku terbangun di kegelapan malam. Kemudian aku bersyukur karena telah dibangunkan kembali oleh Sang Maha Pencipta. Aku bertafakur dan bersujud kepada-Nya.

Selesai itu aku ingat ketika masih kecil sebelum tidur selalu dininabobokkan dan kadang-kadang diberikan cerita-cerita, seperti dongeng sebagai pengantar tidur. Berbeda sekali dengan anak-anak zaman sekarang, termasuk kita yang selalu memegang telepon genggam di tangan.

Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han.
KI Asep Kuswani, penulis – (Sumber: Asep News)

Ketika hari menjelang malam, tersirat dalam pikiranku sebuah kisah yang pernah diceritakan orang tuaku yaitu tentang negeri yang aman dan damai, serta masyarakatnya sejahtera, yaitu Negeri Bidadari.

Apakah Anda penasaran ingin mengetahui ceritanya? Baik, bisa saja cerita ini sebagai pengantar pagi sebelum Anda beraktivitas atau bisa juga sebagai pengantar malam sebelum tidur. Bisa juga menjadi teman ketika Anda sedang rileks sendirian di rumah.

Di ufuk timur, terbentang sebuah negeri yang begitu elok dipandang mata. Tanahnya subur dan makmur, hijau menyelimuti setiap jengkal bumi yang dipijak. Air mengalir jernih dan melimpah, memberikan kehidupan bagi siapa saja yang tinggal di sana.

Tanaman dan buah-buahan tumbuh subur lebat tanpa perlu dipelihara dengan susah payah. Udara yang dihirup terasa begitu segar menyejukkan hati. Inilah Negeri Bidadari ─ surga kecil yang diciptakan Sang Maha Pencipta sebagai anugerah terindah bagi umat manusia. Namun, keindahan dan kelimpahan itu ternyata menjadi incaran bagi orang yang jahat.

Mata-mata iblis terus mengintai dari balik bayang-bayang, mendambakan untuk menguasai dan merusak kesucian negeri itu. Mereka datang bukan dengan pedang atau tombak, melainkan dengan bisikan-bisikan halus yang penuh tipu daya. Mereka ingin meracuni pikiran, memecah belah persaudaraan, dan membuat penduduknya lupa dari mana asal nikmat itu datang.

Secara perlahan hembusan angin mulai berubah arah. Angin itu membawa serta para pemimpin dan penguasa negeri yang terbawa arus kemewahan dan kekuasaan. Awalnya mereka hanya sekadar mencoba minum-minuman keras dan berfoya-foya. Namun, lama-kelamaan mereka hanyut dengan kenikmatan semu sehingga mulai melupakan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai pemimpin. Keadilan mulai pudar dan kebenaran mulai tertutup oleh kebohongan.

Melihat hal itu, iblis-iblis itu tertawa terbahak-bahak. Mereka merasa menang dan semakin berani menggoda. Setiap kali langkah manusia tergelincir, suara tawa mereka semakin keras menggema, seolah kemenangan mutlak sudah berada dalam genggaman tangan mereka. Mereka pikir, negeri ini sudah pasti jatuh ke dalam kekuasaan kegelapan.

Namun, mereka lupa akan satu hal yang paling dahsyat, kekuatan iman. Ketika penduduk negeri kembali sadar dan memohon perlindungan, menguatkan kembali keyakinan dan meningkatkan ketakwaan kepada Sang Pemilik Alam Semesta, terjadilah keajaiban. Cahaya kebenaran kembali menyala begitu terang, menyilaukan mata kejahatan. Kekuatan doa dan keikhlasan menjadi perisai yang tak tertembus.

Di hadapan kekuasaan Allah SWT, kekuatan iblis hanyalah debu. Mereka yang tadinya tertawa, kini menjerit kesakitan dan menangis putus asa. Tipu daya mereka musnah  hancur lebur tak bersisa. Negeri Bidadari kembali aman, damai, dan bersih, dijaga oleh hati-hati yang senantiasa bersandar kepada Sang Maha Pencipta.

Demikian saudaraku, cerita dari orang tua. Semoga ada hikmah di balik ini. Salam sehat penuh berkah.

***

Judul: Negeri Bidadari
Penulis: Ki Asep Kuswani
Editor: Asep (HC) Arie Barajati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *