Menggugat pola edukasi Dogmatis dengan Cahaya Al-Baqarah 30

Inspirasi critical thinking dalam pola edukasi di pesantren dan masyarakat

Ilustrasi: Pemanfaatan Nikmat Akal - (Sumber: Junaedy)
Ilustrasi: Pemanfaatan Nikmat Akal - (Sumber: Junaedy)

ASEP NEWS, Kolom OPINI, Rabu (13/05/2026) – Tulisan berjudul “Menggugat pola edukasi Dogmatis dengan Cahaya Al-Baqarah 30” ini merupakan karya Junaedy Alfan, Peneliti IT untuk Pendidikan dan Peradaban.

Prolog

Dalam beberapa hari terakhir tengah viral perburuan yang dilakukan oleh yang berwajib terhadap konon seorang Kyai di Pati yang melakukan praktik tidak senonoh terhadap banyak santriwatinya. Secara pribadi saya melihat ini sebagai tragedi yang mencoreng agama secara umum dan menghancurkan reputasi entitas pesantren secara khusus.

Tragedi ini lahir dari sebuah proses pendidikan yang lazim terjadi di pesantren,  “Pokoknya apa Dawuh Kyai harus diikuti” tentu tidak semuanya. Proses edukasi dogmatis kepada santri ataupun kepada masyarakat awam. Tidak ada ruang dialog dan diskusi. “Manut mutlak dengan Kyai”. Kyai bahkan dianggap suci, Wali, keturunan Nabi jika membantah tidak beradab, durhaka yang bisa masuk neraka tidak dapat kunci sorga.

Saya ingin mengajak pembaca untuk belajar dari apa yang Allah ajarkan kepada kita dalam Al Baqarah 30. tentang pola pendidikan yang semestinya itu yang kita lakukan.

Junaedy Alfan
Junaedy Alfan, Penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Tragedi di Balik Ketaatan Buta

Kita hidup di zaman yang paradoks. Di satu sisi, kita bangga pada kemajuan sains yang lahir dari pertanyaan kritis. Di sisi lain, dalam ruang-ruang keagamaan dan sosial, kita sering kali disuguhi budaya “diam dan turuti”.

Sebut saja mereka santri, simpatisan, atau masyarakat awam. Banyak di antara mereka menjadi korban bukan karena kebodohan, melainkan karena ketakutan untuk bertanya. Mereka diajarkan bahwa keraguan adalah dosa, pertanyaan adalah pembangkangan, dan diskusi adalah ancaman terhadap kemurnian iman.

Akibatnya? Dogma tumbuh subur. Fanatisme buta merajalela. Dan yang paling menyedihkan: potensi akal manusia nikmat terbesar dari Allah dibiarkan lumpuh tak berfungsi.

Padahal, jika kita kembali ke pedoman hidup kita, Al-Qur’an, tepatnya pada momen penciptaan manusia di Surat Al-Baqarah ayat 30, kita akan menemukan sebuah fakta mengejutkan: Allah justru mengundang dialog. Allah tidak marah pada pertanyaan. Allah bahkan memberi ruang bagi Malaikat suci untuk mengkritisi rencana-Nya.

Mari kita bedah ayat ini, bukan sebagai teks teologi yang kaku, tapi sebagai manifestasi tertinggi dari Critical Thinking (berpikir kritis) yang diajarkan langsung oleh Sang Pencipta.

1. Konteks Ayat: Dialog Langit yang Mengubah Segalanya

Allah SWT berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Mari kita perhatikan dinamika percakapan agung ini:

Pertama, inisiatif Allah: Allah mengumumkan rencana besar: menciptakan manusia sebagai Khalifah (pengelola/pemimpin) di bumi.

Kedua, respon malaikat: Para malaikat, makhluk yang suci, taat, dan tidak pernah berbuat dosa, justru bertanya. Bahkan, pertanyaan mereka bernada keberatan: “Mengapa menciptakan makhluk yang pasti akan membuat kerusakan?”

Ketiga, respon Allah: Allah tidak murka. Allah tidak menghukum mereka karena “kurang adab” atau “membantah kehendak Ilahi”. Sebaliknya, Allah menjawab dengan penjelasan logis: “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Pelajaran Pertama: Pertanyaan Bukanlah Pembangkangan. Jika malaikat saja yang maksum dan suci diizinkan untuk mempertanyakan kebijaksanaan Allah, lalu mengapa manusia biasa dilarang bertanya kepada ulama, guru, atau pemimpin?

Ayat ini mendobrak mitos bahwa “iman harus tanpa tanya hanya wajib diyakini”. Iman yang sejati adalah iman yang melalui proses pemahaman, bukan sekadar penyerahan buta. Allah menciptakan manusia dengan akal, dan akal hanya bekerja ketika ada pertanyaan.

2. Mengapa Malaikat Bertanya? Bukti Critical Thinking

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pertanyaan malaikat bukan karena mereka ingin melawan Allah, melainkan karena mereka menggunakan logika deduktif berdasarkan pengetahuan mereka sebelumnya.

Premis Malaikat, “Makhluk sebelumnya (Jin/Iblis) telah membuat kerusakan. Manusia memiliki hawa nafsu. Maka, logisnya manusia juga akan membuat kerusakan.”

Pertanyaan Kritis, “Apa nilai tambah menciptakan manusia jika hasilnya sama dengan perusak sebelumnya, sementara kami (malaikat) sudah ada untuk bertasbih?”

Ini adalah bentuk High-Level Critical Thinking: 1.  Analisis Data Masa Lalu: Melihat sejarah kerusakan makhluk sebelumnya; 2.  Evaluasi Risiko: Memprediksi potensi bahaya dari ciptaan baru, dan; 3.  Konstruktif Feedback: Menyampaikan kekhawatiran demi kebaikan sistem alam semesta.

Allah menghargai proses berpikir ini. Allah tidak mengatakan, “Diam! Itu rahasia-Ku!” Tapi Allah menjelaskan alasan di balik keputusan-Nya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan menginginkan hamba-Nya memahami ‘Mengapa’, bukan hanya melaksanakan ‘Apa’.

3. Bahaya Dogma & Taqlid Buta: Ketika Kita Lebih “Malaikat” dari Malaikat

Ironisnya, banyak kalangan religius saat ini justru lebih kaku daripada malaikat.

Dogma Santri/Simpatisan: Seringkali diajarkan bahwa “Ikuti saja, jangan banyak tanya. Nanti malah sesat.”

Efeknya: Lahirnya generasi yang mudah dimanipulasi. Mereka tidak bisa membedakan mana ajaran inti (ushul) dan mana pendapat cabang (furu’). Mereka mudah mengkafirkan sesama hanya karena perbedaan interpretasi, karena mereka tidak pernah diajarkan untuk berdialog, hanya diajarkan untuk menghafal.

Padahal, dalam Al-Baqarah 30, Allah menunjukkan bahwa keragaman perspektif itu wajar. Malaikat melihat dari sudut pandang kesucian dan ketertiban. Allah melihat dari sudut pandang potensi, kebebasan memilih, dan ujian. Keduanya benar dalam konteksnya. Jika kita menutup ruang dialog, kita membunuh salah satu sisi kebenaran tersebut.

Bayangkan hati manusia seperti sebuah ruangan. Dogma adalah tembok tebal yang menutup semua jendela. Gelap, pengap, dan penuh debu.

Critical Thinking (seperti dalam Al-Baqarah 30) adalah membuka jendela-jendela itu. Angin segar masuk, cahaya menerangi, dan kita bisa melihat pemandangan luas ciptaan Allah.

Mana yang lebih kita sukai? Tinggal di bunker dogma, atau berjalan di taman pemikiran yang diterangi wahyu?

4. Manusia sebagai Khalifah: Amanah Berpikir

Allah menyebut manusia sebagai Khalifah. Kata ini berasal dari akar kata khalafa yang berarti “menggantikan” atau “meneruskan”.

Untuk menjadi pengganti Allah dalam mengurus bumi, manusia tidak bisa hanya menjadi robot pelaksana. Robot bisa diperintah: “Tanam padi di sini.” Robot akan melakukannya, tapi Khalifah harus bisa memutuskan: “Apakah tanah ini cocok untuk padi? Apa dampaknya bagi ekosistem? Bagaimana jika terjadi kekeringan?” Itu butuh nalar, analisis, dan tanggung jawab moral.

Jika kita mendidik anak didik, santri, atau masyarakat dengan cara melarang bertanya, maka kita sedang mencetak budak, bukan Khalifah. Kita sedang menyiapkan manusia yang pasif, yang menunggu perintah, bukan manusia aktif yang mampu memecahkan masalah umat.

5. Solusi: Membangun Budaya “Tanya-Jawab” yang Beradab

Belajar dari Al-Baqarah 30, kita harus merevolusi cara kita berinteraksi dalam komunitas keagamaan dan pendidikan:

A. Bagi Guru/Ulama/Pemimpin:

Jangan Takut Ditanya. Jika ada murid yang bertanya, anggap itu tanda kecerdasan, bukan kedurhakaan.

Jelaskan “Mengapa”, Bukan Hanya “Harus”. Jangan cuma bilang “Haram!”, tapi jelaskan dampak psikologis, sosial, dan spiritualnya. Biarkan akal mereka sampai pada kesimpulan yang sama dengan hati mereka.

Ciptakan Ruang Aman. Pastikan santri atau jamaah merasa aman secara psikologis untuk mengungkapkan keraguan tanpa takut dicap “kurang iman”.

B. Bagi Santri/Simpatisan/Awam:

Berani Bertanya dengan Adab. Meneladani malaikat: bertanya dengan tujuan memahami, bukan menjatuhkan. Gunakan bahasa yang santun, tapi isi yang kritis.

Bedakan Wahyu dan Opini. Sadari bahwa tidak semua ucapan kyai atau ustadz adalah wahyu. Wahyu (Al-Qur’an & Hadis Shahih) bersifat mutlak. Pendapat ulama bersifat ijtihadi (bisa didiskusikan).

Latih Otot Kritik Diri. Sebelum menerima informasi, tanya: “Apa dalilnya? Apa logikanya? Apa dampaknya?”

Kembali pada Fitrah Akal. Allah tidak menciptakan akal kita untuk dihias saja di kepala. Ia diciptakan untuk digunakan. Malaikat, dengan segala kesuciannya, masih diberi hak untuk berdialog dengan Tuhan. Lalu, siapa kita sehingga merasa berhak membungkam mulut saudara kita yang bertanya?

Dogma memang nyaman. Ia memberi kepastian instan. Ia membuat kita merasa berada di pihak yang “benar” tanpa perlu bersusah payah memahami kompleksitas kehidupan, tapi kenyamanan itu mahal harganya: Kematian potensi.

Mari kita belajar dari Surat Al-Baqarah ayat 30. Mari kita jadikan ruang diskusi kita sebagai ruang kasih sayang, bukan ruang penghakiman. Mari kita ajarkan anak-anak kita bahwa iman yang kuat adalah iman yang tahan banting oleh pertanyaan.

Karena pada akhirnya, Allah tidak meminta kita untuk menjadi malaikat yang hanya bertasbih tanpa paham. Allah meminta kita menjadi Manusia makhluk yang berpikir, merasa, bertanya, dan kemudian, dengan penuh kesadaran, memilih untuk tunduk pada Kebenaran.

Berpikirlah, maka kamu akan menemukan Tuhan dalam setiap nalar. Bertanyalah, maka kamu akan menemukan kedamaian dalam setiap jawaban. Allahu a’lam bishshawab. Barakallah fikum. (Junaedy Alfan).

***

Judul: Menggugat pola edukasi Dogmatis dengan Cahaya Al-Baqarah 30
Penulis: Junaedy Alfan
Editor: JHK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *