Asep News, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (05/02/2026) ─ Pencarian korban bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, memasuki fase krusial. Jumat, 6 Februari 2026, menjadi hari ke-14 sekaligus hari terakhir masa perpanjangan operasi pencarian. Basarnas dijadwalkan akan mengambil keputusan penting: apakah proses pencarian akan kembali diperpanjang atau resmi dihentikan.
Di tengah deretan kisah pilu yang ditinggalkan longsor dahsyat tersebut, terselip satu cerita heroik yang menggetarkan. Cerita itu datang dari Asep Koswara, atau yang akrab disapa Ayah Asep, anggota Tim SAR Pasundan Jawa Barat, yang dua pekan lalu berhasil menyelamatkan seorang korban hidup dari timbunan lumpur bergerak.
Ayah Asep tiba di lokasi bencana pada hari pertama longsor, Sabtu, 24 Januari 2026, sekitar pukul 06.00 WIB. Ia diminta Basarnas untuk datang lebih awal, sebelum bantuan besar tiba di Pasirlangu. Pagi itu, yang menyambutnya bukan hanya udara dingin pegunungan, tetapi juga hamparan lumpur basah yang masih terus bergerak, menelan tiga kampung sekaligus: Kampung Pasirkuning, Kampung Pasirkuda, dan Kampung Babakan Cibudah.

Dua ekor sapi yang terkubur hingga setengah badan menjadi pemandangan pertama yang ia lihat. Namun, di antara sunyi dan kepanikan, Ayah Asep menangkap sesuatu yang tak biasa. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar teriakan minta tolong dalam bahasa Sunda, semakin lama semakin jelas. “Ieu! ieu! Ieuu! didieuu!” teriakan itu seolah menembus suara air dan lumpur.
Tak hanya suara, matanya juga menangkap lambaian tangan yang muncul dari balik lumpur, sekitar 300 meter dari posisinya berdiri. Dengan refleks, Ayah Asep mengeluarkan telepon genggamnya, memperbesar gambar melalui kamera untuk memastikan apa yang ia lihat bukan ilusi. Keyakinannya bulat: masih ada korban yang hidup.
Namun kondisi di lapangan tak memungkinkan ia langsung menerjang. Lumpur bercampur air masih bergerak liar dan sangat berbahaya. Dengan cepat, Ayah Asep meminta bantuan warga setempat untuk menunjukkan jalur memutar yang lebih aman. Tanpa ragu, ia mengikuti warga yang mengetahui medan.
Dengan langkah tergesa, setengah berlari, Ayah Asep akhirnya tiba di titik lokasi. Di sana ia mendapati seorang pria lanjut usia berlumur lumpur, berjuang merangkak perlahan, tubuhnya nyaris menyatu dengan tanah. Pria itu kemudian diketahui bernama Abah Lili, 60 tahun, penjaga tiket Wisata Mentari milik Perhutani sekaligus Ketua LMDH Sinar Burangrang.
Saat longsor terjadi, Abah Lili tengah bermalam di warung kecil yang ia kelola tak jauh dari pos tiket. Warung itu lenyap seketika. Dengan sisa tenaga dan naluri bertahan hidup, Abah Lili berusaha menghindari arus lumpur, bertahan di lapisan tanah paling atas. Selama hampir empat jam, ia merangkak dan berguling di antara lumpur dan bebatuan, hingga engsel kakinya bergeser. Meski kesakitan, ia tak berhenti berjuang.
“Saya tidak langsung mengenalinya. Wajah dan tubuhnya tertutup lumpur semua,” kenang Ayah Asep.
Melihat kondisi korban yang masih sadar namun mulai melemah, Ayah Asep segera mengevakuasi Abah Lili ke puskesmas terdekat. Dari sana, Abah Lili langsung dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Baru setelah dibersihkan dan mendapatkan perawatan, identitasnya benar-benar diketahui.

Abah Lili kemudian bercerita bahwa sejak subuh ia terus berteriak meminta tolong. Namun derasnya hujan dan suara lumpur yang terus bergerak membuat teriakannya nyaris tak terdengar.
Tiga belas hari berselang, operasi pencarian korban masih berlangsung. Di tengah suasana duka yang belum usai, Ayah Asep mendapat kabar bahwa Abah Lili telah pulang ke rumah. Kamis, 5 Februari 2026, ia pun menyempatkan diri menjenguk, didampingi sejumlah perwakilan Perhutani dan lembaga kehutanan setempat.
Kondisi Abah Lili kini berangsur pulih. Meski sempat mengalami cedera pada engsel kaki, semangat hidupnya tak surut. Pertemuan sore itu berlangsung haru, saat Abah Lili kembali menceritakan detik-detik perjuangannya melawan lumpur maut, kisah yang membuat suasana hening dan mata berkaca-kaca.

Di sisi lain, kabar duka kembali datang. Pada hari ke-13 pencarian, tim SAR kembali menemukan satu jenazah. Hingga kini, jumlah pasti korban yang belum ditemukan masih belum dapat dipastikan. Berdasarkan data sementara Basarnas, korban yang terdata mencapai 107 orang, namun jumlah kantong jenazah yang telah dievakuasi justru menembus angka 120.
Ayah Asep menduga adanya korban dari luar wilayah yang saat kejadian tengah bertamu ke Pasirlangu. Ia juga belum dapat memastikan apakah pencarian akan kembali diperpanjang atau dihentikan sesuai keputusan Basarnas.
Dalam kunjungan tersebut, Pengurus Paguyuban LMDH Jawa Barat, Thio Setiowekti, menyampaikan harapannya agar Abah Lili dapat pulih sepenuhnya, baik fisik maupun mental, dan kembali menjalankan aktivitasnya seperti sedia kala.
“Kami datang untuk memberi semangat, agar Abah Lili tidak larut dalam trauma dan bisa kembali berkegiatan normal sebagai Ketua LMDH Sinar Burangrang,” ujar Thio.
Di tengah tragedi yang merenggut banyak nyawa, kisah Ayah Asep dan Abah Lili menjadi pengingat bahwa di antara lumpur, duka, dan kehancuran, kemanusiaan masih berdiri tegak—menolak menyerah. (Sumber: priangan.tribunnews.com).
***
Judul: Empat Jam Bertaruh Nyawa di Lumpur Maut: Kisah Heroik Ayah Asep Menyelamatkan Abah Lili di Longsor Pasirlangu
Kontributor: Ferri Amiril
Editor: JHK










