ASEP NEWS, Kolom OPINI, Jumat (12/06/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Dari Sajadah ke WAG: Jaga Lisan” ini ditulis oleh: Ki Asep Kuswani alias Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS), Ketua Dewan Pembina (KDP) Paguyuban Asep Dunia (PAD), Dewan Pembina Asosiasi Media Independen Online (MIO) Indonesia, dan founder Asep News (AsepNews.id).
Pagi hari punya cara sendiri untuk menenangkan jiwa. Ketika azan Subuh berkumandang, rasanya seperti dipanggil pulang ke ketenangan. Kembali salat Subuh di sepertiga malam terakhir, lalu keluar menghirup udara segar sebelum dunia ramai.
Udara Bandung masih bersih, dinginnya menusuk pelan ke paru-paru. Di depan rumah, duduk bersila sambil berzikir: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ulang terus sampai matahari mengintip malu dari balik gunung. Dada yang tadinya penuh beban, jadi lebih ringan.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Begitu buka WhatsApp Group (WAG) keluarga, WAG temen seangkatan, WAG campuran, isinya langsung pro kontra. Satu kelompok bilang “pemerintah begini”, lalu kelompok yang lain menjawab “rakyatnya juga begitu”. Debat kusir soal harga BBM, politik, sampai urusan tetangga. Jempol cepat mengetik, emosi cepat naik. Pagi yang tadinya sejuk, mendadak panas di kepala.
Di sinilah ujiannya kita. Zikir tadi ngajarin kita: menahan lisan itu ibadah. Baca berita boleh, beda pendapat wajar, tetapi kalau tiap pagi kita awali dengan adu argumen, hati jadi keras dan tetangga pun bisa menjadi musuh, padahal tujuan kita sama: ingin negeri ini aman dan damai.
Lalu bagaimana solusinya?
Pertama, utamakan adab sebelum argumen. Grup WA itu kayak beranda rumah. Masa iya tamu datang langsung teriak? Bedakan antara kritik membangun dan menjelekkan orang. Kalau mau berkomentar, tanya dulu, “Apakah ini bisa menjadi solusi atau justru hanya menambah gaduh?”
Kedua, filter informasi sebelum nge-share. Hoaks dan potongan video lima detik paling gampang bikin rusuh. Cek dulu sumbernya. Kalau belum jelas, tahan jempol. Pepatah Bali bilang alus tutur, becik karma – tutur kata halus, perbuatan jadi baik.
Ketiga, ingat musuh kita bukan sesama anak bangsa. Yang bikin harga naik, lapangan kerja susah, itu masalah sistem. Kita debatnya ke solusi, bukan ke SARA (Suku, Ras, dan Agama) dan sumpah serapah. Musyawarah, bukan saling menjatuhkan. Seperti habis zikir tadi: kita semua sama-sama berharap hidup berkah.
Keempat, turun dari HP, pegang cangkul, atau kegiatan lain yang menguntungkan. Usai zikir dan baca WAG, tutup HP. Siram tanaman, sapu halaman, lalu kita bertegur sapa dengan tetangga. Negara aman dan damai itu dibangun dari rumah tangga yang rukun, bukan dari status WA yang viral.
Pagi hari ini mengajarkan satu hal: matahari tetap terbit walau langit semalam mendung. Indonesia juga begitu. Selama kita mau mulai hari dengan sujud, zikir, dan lisan yang dijaga, insyaAllah negeri ini tetap aman. Damai itu bukan nggak ada beda pendapat. Damai itu saat beda pendapat, kita tetap bisa senyum dan bilang, “Ngopi dulu Kang!”
Mari kita sama-sama menjaga hati dan lisan dari perbuatan yang kurang baik. Jadi, mulai besok pagi sehabis zikir, sebelum membalas komentar di WAG, mari kita tarik napas dulu. Udara segarnya sayang kalau terbuang hanya buat emosi.
***
Judul: Dari Sajadah ke WAG: Jaga Lisan
Penulis: Ki Asep Kuswani
Editor: Asep (HC) Arie Barajati












