Kisah Seorang Prajurit – Bagian 1

Artikel ini ditulis oleh: Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han.

Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han.,
Mayjen TNI Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han. - (Sumber: Koleksi pribadi)

ASEP NEWS, Kolom OPINI, Selasa (24/02/2026) – Artikel berjudul “Kisah Seorang Prajurit – Bagian 1” ini merupakan tulisan Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS), Ketua Dewan Pembina (KDP) Paguyuban Asep Dunia (PAD),  Dewan Pembina Asosiasi Media Independen Online (MIO) Indonesia, dan founder (pendiri) Asep News (AsepNews.id).

CERITA ORANG TUA

Pada suatu subuh saat embun menyelimuti pagi, ayam jago mulai berkokok. Suasana yang cukup tenang mulai berubah menegangkan. Terdengar dar der dor suara tembakan yang disusul dengan asap dan api membara membubung menuju langit.

Ternyata ada pembakaran rumah di perkampungan itu. Pada tahun itu, sekitar Februari 1958, keadaan negara kita memang sedang menghadapi rongrongan dari pihak yang ingin mengubah ideologi Pancasila menjadi ideologi lain. Jadi, saat itu masih terdapat gerombolan pengacau keamanan yang suka mengganggu di perkampungan-perkampungan sehingga situasinya cukup menegangkan dan mencekam.

orang tua Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han.,
Foto ayah dan ibuku ketika masih muda – (Sumber: Koleksi pribadi)

Ayahku adalah seorang serdadu alias Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang setiap saat harus selalu siap sedia menghadapi berbagai macam situasi dan kondisi yang berkembang. Sudah merupakan tugas dan tanggung jawabnya untuk menjaga stabilitas keamanan.

Di balik tugas seorang suami yang penuh perjuangan dan pengorbanan demi bangsa dan negara, ada seorang istri yang setia mendampinginya. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang setiap saat harus mendampingi suami kala suka dan duka. la harus selalu ada di sampingnya, dalam situasi dan kondisi apa pun, padahal saat itu beliau sedang mengandung.

Melihat situasi yang berkembang saat itu, di kampung tempat Ayahku bertugas, yaitu salah satu wilayah bagian kabupaten di Garut sedang genting karena merajalelanya gerombolan pengacau keamanan DI/TII. Ayah sebagai pimpinan yang bertanggung jawab di wilayah itu bertugas sebagai komandan BODM ─ kalau sekarang mungkingkat Koramil, harus segera beraksi untuk menghalau gerombolan yang mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat.

Dengan membawa beberapa anak buahnya, Ayahku melakukan pengejaran terhadap gerombolan pengacau keamanan DI/TII. Akhirnya terjadilah kontak tembak. Berkat kesigapan Ayah dan anak buahnya, akhirnya ketika menjelang terang, gerombolan itu lari tunggang-langgang hingga menghilang. Setelah itu, suasana dapat kembali pulih dan warga kembali tenang.

Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han.,
Foto aku dan istriku ketika aku masih dinas – (Sumber: Koleksi pribadi)

Masyarakat pun merasa tenang dan bahagia atas upaya aparat keamanan yang bisa memukul mundur gerombolan tersebut. Ketika suasana sudah kembali aman, Ayahku kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, bahagia bercampur kaget, ia disambut dengan kelahiran seorang anak laki-laki.

Jadi, saat Bapakku mengejar gerombolan, Ibuku sedang berjuang menahan rasa sakit untuk melahirkan. Dibantu saudara, Ibuku mencari paraji atau dukun beranak karena saat itu belum ada bidan desa. Untungnya rumah ibu paraji itu tempatnya tidak jauh dari rumah dinas orang tuaku bertugas. Paraji atau dukun beranak itulah yang mengurus kelahirannya.

Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han.
Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han., Penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Rasa haru, bahagia, serta bersyukur bercampur menjadi satu. Sebagai rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta atas kelahiran seorang bayi laki-laki, dengan bangganya Ayahku menembakkan kembali senjatanya ke arah lamping/gawir ─ tempat yang agak miring ─  yang aman tidak jauh dari tempat tinggal.

Ya, begitulah ala seorang prajurit menumpahkan kebahagiaannya. Akan tetapi, ulah beliau membuat warga panik. Begitu mendengar suara tembakan, masyarakat kampung dibuat kaget. Mereka mengira gerombolan pengacau keamanan masuk kembali ke kampung halamannya. Namun, hal itu tidak berlangsung lama, warga kembali lega setelah tahu bahwa suara tembakan itu adalah tanda syukur seorang serdadu atas kelahiran seorang putra yang dibanggakannya. Warga pun berkumpul untuk menengok kelahiran seorang bayi laki-laki yang menjadi kebanggaan kedua orang tuanya.

Bayi yang dibanggakan dan didambakan tersebut lahir pada Kamis pagi, 6 Februari 1958 dan diberi nama Asep Kuswani. Nama ini diberikan sebagai rasa kasih sayang orang tua kepada anaknya yang kala itu Ayah tidak bisa menemani proses kelahiran putranya secara langsung karena sedang bertugas menghadapi musuh negara.

Informasi yang didapat dari paraji yang membantu proses kelahiranku bahwa ketika lahir, tali ari-ariku melilit di leher seperti selempang. Menurut penerawangan ibu paraji bahwa kelak jika sudah besar, anak itu akan seperti bapaknya menjadi seorang tentara. (Bersambung ke bagian 2).

***

Judul: Kisah Seorang Prajurit – Bagian 1
Penulis: Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han.
Editor: Asep (HC) Arie Barajati

 Catatan:

 Tulisan ini merupakan penggalan dari buku autobiografi berjudulThe True of a Soldierkarya  Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han., yang diterbitkan oleh Penerbit Nawa Utama (Anggota IKAPI) pada Februari 2021.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *