ASEP NEWS, Kolom OPINI, Sabtu (28/02/2026) – Artikel berjudul “Menjaga Politik Waras” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, di tengah riuh kekuasaan dan desir kepentingan, politisi dan intelektual adalah dua penyangga kewarasan publik. Jika satu retak, bangunan bersama miring; jika keduanya rapuh, peradaban menunggu runtuh.
Agar kebijakan memantulkan nalar publik—jernih dan berpijak pada kenyataan—Pierre Bourdieu mengingatkan: politisi perlu bersikap bak ilmuwan, tekun pada fakta dan rendah hati pada bukti. Tanpa disiplin pengetahuan, kekuasaan mudah tergelincir menjadi kehendak sepihak—dari obor penerang menjadi api yang menghanguskan.

Namun ironi kerap datang. Joseph Stiglitz menandai paradoks: sebagian ilmuwan justru berperilaku seperti politisi. Dalam pusaran kebijakan, argumen tak lagi dipandu data, melainkan kedekatan. Fakta dipilih untuk menyenangkan kuasa. Ilmu berhenti menjadi lentera, berubah menjadi cermin bagi majikan.
Lumrah bila politisi tak selalu luas erudisinya, tetapi petaka bila intelektual menanggalkan kedalaman dan akal sehat. Jika politik berputar tanpa arah visioner, sebabnya bukan hanya pada panggung kuasa, melainkan pada sunyinya nurani intelektual.
Saat logika ilmu tunduk pada nalar politis, intelektual menjelma stempel kuasa. Di situlah nurani diuji: menjadi penjernih atau pengeruh.
Sejarah telah mengingatkan dengan getir. Joseph Stalin pernah berkata, “One death is a tragedy, one million is a statistic.” Saat angka menggantikan wajah dan statistik menelan tangis manusia, kewarasan publik tercerabut dari akarnya.
Karena itu, menjaga kewarasan publik bukan kerja sesaat, melainkan laku batin yang panjang—menuntut politisi yang mau belajar dan intelektual yang setia pada kebenaran. Tanpa persekutuan keduanya dalam cahaya akal sehat, kebijakan tak akan berbuah kebajikan, melainkan kesesatan.
***
Judul: Menjaga Politik Waras
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Asep (HC) Arie Barajati
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.
***












