Pagi di Cisewu

Artikel ini ditulis oleh: Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han.

Ilustrasi: Kampung Cisewu - (Sumber: ASep News)
Ilustrasi: Kampung Cisewu - (Sumber: ASep News)

ASEP NEWS, Kolom OPINI, Minggu (25/10/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Pagi di Cisewu” ini ditulis oleh: Ki Asep Kuswani alias Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS), Ketua Dewan Pembina (KDP) Paguyuban Asep Dunia (PAD),  Dewan Pembina Asosiasi Media Independen Online (MIO) Indonesia, dan founder Asep News (AsepNews.id).

Perjalanan yang cukup mengesankan dari Bandung menuju Cisewu, alam pegunungan mengingatkan kembali orang tua dulu kita ketika melaksanakan perang gerilya. Namun, suasana saat ini jauh berbeda sepanjang perjalanan banyak tempat tempat wisata dari Pangalengan menuju Cisewu.

Kabut tebal yang menyelimuti pegunungan dan jalan sangat mengasyikkan seperti kita berjalan di atas awan. Di sana ada objek wisata “Taman Langit” Pangalengan. Betapa indahnya bagaikan seorang dewa yang berada di langit dan kelilingi dengan awan atau di dalam pewayangan bak Gatotkaca, tetapi sayangnya saya tidak berkumis.

Saya sekeluarga bermalam di Cisewu. Tak terasa ayam sudah berkokok dan suara azan pun berkumandang.

Ilustrasi: Suasana panorama indah di Kampung Cisewu, Kabupaten Garut - (Sumber: Asep News)
Ilustrasi: Suasana panorama indah di Kampung Cisewu, Kabupaten Garut – (Sumber: Asep News)

Selesai melaksanakan ibadah salat Subuh di Cisewu (salah satu kecamatan dari Kabupaten Garut), kegiatan saya selanjutnya adalah menghirup udara segar sambil menikmati suasana alam pegunungan yang sangat asri.

Saya berjalan menghirup udara segar. Betapa nikmatnya karunia yang sudah Allah SWT berikan kepada saya. Tentu nilainya tiada terukur.

Saat itu sinar matahari belum sepenuhnya terbit. Namun, Kampung Cisewu sudah terbangun dari tidurnya. Kabut tipis masih menyelimuti bukit-bukit hijau yang mengelilinginya memberikan kesan sejuk dan damai yang sulit ditemukan di tempat lain.

Udara pagi di sini terasa begitu bersih dan segar. Menghirupnya saja membuat saya terasa semakin sehat, seolah-olah semua kelelahan yang semual ada di tubuh dan pikiran perlahan-lahan lenyap tak berbekas.

Suara alam menjadi musik pembuka hari di Cisewu. Kicauan burung saling bersahutan dari pepohonan di pinggir jalan setapak, sementara suara aliran yang bersumber dari Sirah Cai/Balong Sirah Cisewu yang jernih terdengar berirama menenangkan jiwa.

Sesekali terdengar suara ayam berkokok dari kejauhan, tanda kehidupan mulai berjalan. Jalanan desa yang masih sepi perlahan dihiasi oleh warga yang mulai beraktivitas. Warung sudah mulai buka, para petani berjalan santai menuju ladang dengan cangkul di bahu dan senyum tulus di wajah, menyapa siapa saja yang mereka temui dengan ramah.

Aroma pagi di kampung ini memiliki keunikan tersendiri. Tercium bau tanah basah sisa embun malam, bau dedaunan hijau, serta asap tipis dari dapur-dapur warga yang mulai menyalakan api untuk memasak sarapan.

Sederhana sekali. Namun, semua itu terasa begitu hangat dan menenangkan jiwa. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan. Tidak ada kebisingan gedung-gedung tinggi. Hanya ada kesederhanaan yang tulus dan kedamaian yang murni.

Saat matahari mulai naik perlahan, menyelinap di antara celah bukit, cahayanya menyinari rumah-rumah kayu dan sawah yang menghampar luas bagai permadani hijau. Cisewu tampak begitu indah, bukan karena kemewahannya, melainkan karena keasrian alamnya dan keramahan penduduknya yang saling menyapa dengan kehangatan.

Pagi di Cisewu mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal yang rumit. Terkadang, ia hadir dalam kesederhanaan: udara yang segar, senyum tetangga, dan harapan baru yang terbit bersama matahari.

Semoga keindahan dan kedamaian ini selalu terjaga sebagai anugerah alam yang patut kita syukuri dan jaga sepenuh hati.

***

Judul: Pagi di Cisewu

Penulis: Ki Asep Kuswani

Editor: Asep (HC) Arie Barajati

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *