ASEP NEWS – Rubrik OPINI, Kamis (18/12/2025) – Artikel berjudul “Jejak yang Hilang di Hutan Rawa” ini adalah sebuah esai karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Pipa besi membentang, seakan pagar yang memisahkan dua kelopak mata dari semak belukar. Ia bukan sekadar benda mati, melainkan simbol pembatas antara masa kini dan masa lalu, antara warisan hidup yang pernah berdenyut dengan bebas dan dunia yang kini terjerat oleh peradaban yang rakus.

Hutan yang dahulu menjadi ruang berburu, tempat manusia menyatu dengan alam, kini hanya tinggal bayangan. Semak belukar yang dulu riuh oleh suara burung dan desir angin, perlahan digantikan oleh deru mesin dan kilang yang menyemburkan api.
Api itu membakar cahaya yang hilang. Ia menyulut bukan hanya batang kayu, melainkan juga kenangan. Mengapa wajahmu tiada di sana? Pertanyaan itu menggema, seakan mencari sosok yang pernah hadir. Namun, kini lenyap ditelan abu.
Air mata menetes, membasahi kalbu yang diliputi duka. Waktu meredup, menjadi abu yang beterbangan, tak lagi menyisakan kehangatan. Yang tersisa hanyalah kesunyian, seolah dunia telah kehilangan denyut nadi kehidupan.
Kemanakah kau? Pertanyaan itu kembali hadir, menelusuri jejak yang hilang. Hanya sawit-sawit yang berdiri di hutan rawa, menggantikan pepohonan raksasa yang dulu menjadi penopang ekosistem. Rawa terbakar, tanah retak, dan jejak kakimu tak lagi meninggalkan kehidupan. Kini yang kutemukan hanyalah darah beku di rumput kering, tanda bahwa kehidupan pernah ada. Namun, kini hanya tinggal sisa.

Peristiwa Banjir Bandang di Sumatra
Di tengah kehampaan itu, alam seakan menjerit. Banjir bandang di Sumatra menjadi bukti nyata bahwa luka hutan bukan sekadar metafora. Air bah datang dengan amarah, menghanyutkan rumah, jembatan, dan kehidupan yang rapuh.

Sungai yang dulu tenang berubah menjadi monster yang menelan apa saja di hadapannya. Ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal, anak-anak menangis mencari orang tua, dan tanah yang gundul tak mampu lagi menahan derasnya hujan. Banjir bandang itu bukan sekadar bencana alam, melainkan jeritan bumi yang dipaksa menanggung beban kerakusan manusia.
Hutan yang digunduli, rawa yang dikeringkan, dan sawit yang ditanam tanpa henti menjadi akar dari tragedi itu. Alam yang kehilangan keseimbangannya membalas dengan cara yang paling tragis. Banjir bandang bukan hanya menghancurkan fisik, tetapi juga merobek batin manusia yang menyaksikan rumah dan kenangan mereka hanyut tanpa sisa.
Jejak Kehidupan yang Terkikis
Dalam setiap tetes air bah, ada cerita tentang kehilangan. Ada wajah-wajah yang tak lagi bisa tersenyum, ada tangan-tangan yang tak lagi bisa menggenggam. Hutan yang dulu menjadi pelindung kini hanya tinggal nama. Sawit-sawit berdiri kaku, tak mampu menahan air, tak mampu memberi kehidupan. Mereka hanya menjadi saksi bisu dari kehancuran yang diciptakan oleh tangan manusia sendiri.
Pipa besi, kilang api, dan rawa terbakar adalah simbol dari dunia yang terbelah. Dunia yang memilih keuntungan di atas kehidupan, dunia yang menukar keindahan dengan kehancuran. Di tengah semua itu, manusia kehilangan dirinya sendiri. Jejak kaki yang dulu menyatu dengan tanah kini lenyap, digantikan oleh darah beku di rumput kering.

Api dan Air: Dua Wajah Kehancuran
Api dari kilang membakar cahaya, sementara air dari banjir bandang menghanyutkan kehidupan. Dua elemen yang seharusnya menjadi sumber energi dan kesuburan, kini berubah menjadi wajah kehancuran. Api dan air, yang dulu menjadi sahabat manusia, kini menjadi musuh yang tak bisa dikendalikan. Mereka hadir sebagai pengingat bahwa alam bukanlah benda mati yang bisa diperlakukan semena-mena. Alam memiliki cara untuk menuntut keadilan, meski dengan harga yang mahal.
Kesunyian yang Menyisakan Harapan
Di balik abu dan air bah, masih ada harapan. Kesunyian yang menyelimuti hutan rawa bukanlah akhir, melainkan panggilan untuk kembali. Panggilan untuk manusia agar menyadari bahwa kehidupan bukan hanya tentang keuntungan, melainkan tentang keseimbangan. Hutan yang hilang bisa ditanam kembali, rawa yang terbakar bisa dipulihkan, dan sungai yang mengamuk bisa ditenangkan jika manusia mau belajar dari kesalahan.
Esai ini adalah doa, sebuah seruan agar kita tak lagi membiarkan pipa besi memagari mata kita dari kenyataan. Agar kita tak lagi membiarkan api membakar cahaya, dan air menghanyutkan kehidupan. Agar jejak kaki yang hilang bisa kembali ditemukan, bukan sebagai darah beku di rumput kering, melainkan sebagai tanda kehidupan yang tumbuh kembali.
Pamungkas
Jejak yang hilang di hutan rawa adalah cermin dari dunia yang kehilangan arah. Banjir bandang di Sumatra adalah jeritan alam yang tak bisa diabaikan. Api dan air telah menunjukkan wajah murka mereka. Namun, juga membuka jalan bagi manusia untuk kembali pada akar kehidupan. Semoga kita mampu mendengar panggilan itu, sebelum semua benar-benar menjadi abu dan hanyut tanpa sisa.
***
Judul: Jejak yang Hilang di Hutan Rawa
Penulis: Didin Tulus
Editor: JHK










