Resah Menunggu Aryo Pulang

Artikel ini ditulis oleh: Sarkoro Doso Budiatmoko

Ronda
Ilustrasi: Suasana di Pos Kamling - (Sumber: Asep (HC) Arie Barajati)

Asep NEWS, Kolom Sastra, Sabtu (17/01/2026) – Cerita pendek (cerpen) berjudul Resah Menunggu Aryo Pulang ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko,  seorang penulis dan pengarang, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.

Kampung Haur selama ini tenang, tentram dan hampir tidak pernah terjadi keributan. Meski konflik antar warga itu jamak dalam bermasyarakat, tetapi di sini konflik belum pernah berkembang menjadi huru-hara. Atmosfir kehidupan warganya adem dan ayem.

Suatu hari pernah ada perselisihan dua pemuda gegara knalpot bronk yang memekakkan telinga. Namun, itu tidak berlangsung lama dan berujung damai setelah kedua orang tua mereka turun tangan. Warga kampung ini tampaknya tidak terbiasa dengan pertengkaran yang berujung ribut berkepanjangan.

Lingkungan alamnya hijau asri. Hampir setiap halaman rumah tumbuh satu atau dua pohon. Di rumah-rumah yang tidak memiliki halaman. Mereka menanam tanaman dalam pot, biasanya tanaman kebutuhan dapur.

Bertamu ke rumah janda
Ilustrasi: Pak RT sedang bertamu dan ngobrol dengan istri Aryo – (Sumber: Asep (HC) Arie Barajati)

Meski demikian, kampung Haur tidaklah sepi. Setiap pagi ramai anak-anak dan orang tua berangkat ke sekolah dan ke tempat kerja. Siang dan sore, ramai lagi saat mereka pada pulang.

Keramaian lain muncul ketika ada warga menggelar hajatan yang bisa berlangsung sampai dua hari. Pada acara itu, warga silih berganti datang. Warga yang masih sendiri berpakaian perlente sedangkan pasangan suami istri berpenampilan serasi penuh harmoni.

Acara hajatan menjadi salah satu wadah silaturahmi. Warga datang memberi selamat, menyumbangkan angpau, lalu bersama-sama menikmati hidangan sambil ngobrol dengan sesama tamu.

Obrolan saat resepsi biasanya bertambah seru kalau ada kehadiran emak-emak. Mereka piawai membuat obrolan biasa menjadi hangat. Berbagai topik diangkat, dari harga-harga kebutuhan dapur sampai isu hangat dan gossip panas.

Tempat hajatan sering berubah menjadi stasiun gossip. Di tempat resepsi yang hiruk-pikuk suara musik, bergossip tidak bisa dilakukan hanya dengan berbisik-bisik. Maka ada saja emak-emak yang nimbrung dengan suara lantang, “Eh, ada kabar apa nih, bagi dooong…”

Lalu ada lagi yang menyahut, “Eh sini, ada yang baru nih, fresh from the oven…”

Emak-emak lainnya menanggapi, “Iya sini, jangan ketinggalan berita…”

Lantas obrolan para emak pun berlangsung bersahut-sahutan dan sambung-menyambung ditingkahi suara denting sendok beradu dengan piring. Ada juga suara gemeretak kerupuk yang remuk digigit.

Beda dengan kaum lelaki. Ketika di tempat resepsi, mereka lebih sibuk makan. Kalaupun harus bicara, topiknya tidak jauh dari pekerjaan, sepakbola atau memancing.

Para lelaki lebih suka bermain aman. Berbicara macam-macam di tempat yang juga dihadiri emak-emak, menurut mereka bisa mengundang bencana.

Berbeda sekali ketika para lelaki berkumpul ronda malam di Pos Kamling. Inilah dunianya lelaki, tempat segala macam isi kepala para pejantan ditumpahkan. Mulai dari yang jorok hingga urusan akhirat atau dari soal politik hingga wanita cantik. Semua menjadi omongan yang mengundang tawa atau tangis.

Seperti malam itu, ditemani kopi panas dan gorengan para bapak yang mendapat giliran ronda pada ngobrol tentang bencana alam yang menimpa beberapa daerah. Berbagai analisa tajam keluar dari kepala mereka, mengapa bencana bisa terjadi, siapa pelakunya dan bagaimana seharusnya mengelola bantuan.

Omongan para bapak di Pos Kamling terdengar sama hebatnya dan sama panasnya dengan anggota Dewan dan Politikus handal. Hebatnya lagi, walau panas tapi tidak ada amarah, malah kadang muncul ketawa ngakak bersama.

Masyarakat kampung Haur memang luar biasa. Di setiap obrolan selalu ada tawa, “Ha … ha … ha …,” dan tiba-tiba berganti dengan, “Wah, wah, wah,” atau ungkapan rasa salut, “Hebat … hebat … hebat. ” Ungkapan-ungkapan itu silih berganti dan susul menyusul muncul dari bibir mereka.

Kehangatan ngobrol kadang membuat mereka lupa tugas penting ronda malam, yaitu memukul kentongan sambil keliling mengawasi lingkungan. Salah satu peronda, Unang, nyeletuk mengingatkan, “Ada yang tahu Dirgo di mana? Kok belum datang, padahal sudah hampir tengah malam, saatnya keliling kampung pukul kentong.”

“Ahaa… kamu belum tahu rupanya Unang,“ jawab Udin, dilanjutkan dengan setengah berbisik, “Dirgo sekarang dilarang istrinya keluar rumah malam-malam.”

“Haaah, kenapa emang? Dirgo sehat kan Din?” Tanya Unang.

Udin menanggapi, “Dirgo sehat-sehat saja, justru karena dia sehat maka dilarang keluar sama bininya.”

“Bagaimana ceritanya Din?” Tanya Unang lagi.

Lalu Udin bercerita, bahwa istri Dirgo cemburu berat mendengar cerita dari emak-emak lain bahwa suaminya ngobrol hangat dengan istri Aryo di emperan rumah.

“Aryo yang sudah setahun ini kerja di luar negeri Din?” Tanya Unang.

Udin menjawab, “Iya, sudah sebulan ini istri Aryo di rumah menjaga Abahnya Aryo yang hidup sendiri.”

“Ooh itu, aku tahu,” sahut Jangkung, lalu dia tambahkan, “Istri Aryo memang cantik kok, ya pasti banyak yang suka.”

“Looh, kok kamu tahu Kung?” Tanya Unang.

“Ya tahulah, barang bagus masak aku gak tahu,” sahut Jangkung

“Kamu saja yang kurang wisata Nang,” kata yang lain, lantas disambung tawa berderai, mereka puas mengolok-olok Unang.

“Okey, aku memang kurang plesir kan, aku orang sibuk, ha … ha … ha,” sahut Unang tidak mau kalah.

“Tapi ngomong-ngomong itu bagaimana ceritanya Din?” tanya Unang penasaran.

Peronda lain yang mengenakan topi menyambung, “Dirgo cerita ke aku, awalnya sebenarnya mereka ngobrol berdua di emperan, tapi istri Aryo lalu mengajak masuk, mereka ngobrol berdua di dalam rumah. Katanya sih di ruang tamu.”

“Looh kan di rumah itu ada Abahnya Aryo,” sahut Unang.

“Ha …ha…ha, dia udah tua, dikasih kopi juga diam,” timpal Gunawan.

“Dirgo bilang mereka hanya ngobrol doang,” jelas Udin

“Itulah makanya, benar kata ustaz, jangan ngobrol berdua-dua dengan yang bukan mukhrim, bakal muncul fitnah,” nasehat Unang.

“Kabarnya istri Dirgo sudah lapor Pak RT,” kata Udin.

“Wah sudah segitunya ternyata,” kata Unang.

“Tapi baguslah itu, kita tunggu tindakan Pak RT, mudah-mudahan fitnah tidak beredar liar di kampung kita ini,” kata Jangkung penuh harap.

Lalu Unang menyambung, “Makanya kawan, jaga mata jangan liar dan jangan sembarangan ngobrol sama istri orang.”

Udin menjawab, “Nang, yang salah tuh istrinya Aryo, kenapa dia cantik dan menarik.”

“Bener juga Udin. Coba kalu tidak cantik, mana mau Dirgo mampir lalu ngobrol,” sambung si Kusna.

Obrolan mereka ngalor-ngidul diselingi tawa ngakak dan senyum nakal.

Bagi para peronda yang belum pernah lihat istri Aryo mulai malam itu menyimpan hasrat kuat ingin segera melihat, sedangkan peronda yang berjiwa petualang, mulai malam itu mencari-cari peluang untuk bisa mendekat.

Lantas mereka semua diam bagai tenggoret terinjak sepatu Satpam. Mereka menyimpan rencana di kepala masing-masing tentang istri Aryo. Angin malam bertiup pelan berlalu tanpa suara.

Beberapa saat lewat, Udin memulai lagi obrolan, “Aku tidak mengira si Aryo bisa dapat istri cantik seperti itu.”

“Iya, orang kota besar kok mau sama Aryo ya,” kata si Gunawan.

Si Kusna mencoba nimbrung,  “Jangan-jangan Aryo pakai guna-guna.”

“Hush…itu syirik!” Sergah Unang.

Lalu kata si Gunawan, “Guna-guna yang paling ampuh ya duit.”

Lalu disambut ketawa riuh.

“Ha … ha … ha, betul,” kata yang lain setuju.

Kata Gunawan, “Lihat saja orang yang istrinya cantik, pasti dia banyak duit.”

Unang menyergah tidak setuju, “Emang Aryo banyak duit.? Tampangnya biasa saja, ganteng juga kagak.”

Tengah malam sudah hampir lewat, rasa kantuk dan dinginnya malam menghentikan obrolan lalu berkemas dan beberes pos untuk pulang. Para lelaki itu perlu waktu istirahat untuk aktivitas kerja esok hari. Mereka berjanji akan saling berkabar.

***

Ronda malam pekan berikutnya, Gunawan menjadi orang yang paling dulu hadir di Pos Kamling. Beberapa menit kemudian baru menyusul Kusna dan Jangkung. Bertiga mereka duduk menunggu yang lain sambil minum kopi dan menikmati jajanan kecil.

Mereka bertiga bukan orang yang banyak bicara sehingga suasana menjadi tidak seperti biasanya, Pos Kamling sepi. Kawan-kawan ronda yang mereka tunggu tak kunjung datang padahal malam semakin larut.

Mereka kaget, Pak RT yang tidak ditunggu malah datang. Mereka ngobrol panjang lebar, padahal awalnya hanya untuk memberitahu Gunawan dan kawan-kawan, “Malam ini Dirgo masih belum bisa ikut ronda, sudah tahu kan sebabnya?”

“Sudah pak RT, Dirgo dilarang istrinya keluar malam kan?” Jawab Gunawan.

“Ya, sudah sepuluh hari Dirgo tidak keluar malam, sedangkan Unang dan Udin tadi berpamitan tidak bisa ronda juga karena dilarang istrinya,” kata Pak RT.

“Mereka kenapa juga dilarang istrinya Pak?” Tanya Kusna.

“Unang ketahuan mampir ke rumah istri Aryo, entah ngapain dia di sana, sedangkan Udin dilarang karena istrinya khawatir Udin terpengaruh Unang.”

Pak RT lantas duduk di dalam Pos Kamling dan mulai ngobrol ngalor ngidul. Dia cerita bahwa beberapa hari ini setiap malam ada saja yang berpamitan tidak berangkat ronda malam. Banyak dari mereka itu tidak berangkat karena dilarang istrinya, gara-gara istrinya Aryo.

“Wah, yang ronda semakin sedikit, mudah-mudahan kampung kita ini tetap aman,” kata Gunawan.

“Kemarin malam, malah istri Roni memaksa ikut ronda malam karena suaminya tidak mau dilarang,” tambah pak RT.

“Wah … wah … wah, pada kena sawan apa itu emak-emak Pak RT?” Tanya Kusna.

“Iya niih, repot juga saya menjaga lingkungan,” kata Pak RT.

Mereka lalu tertunduk bareng. Merenung. Bingung.

***

Esok harinya, di warung emak-emak kumpul ramai berbelanja sambil membicarakan perilaku para suami. Ada yang dengan banga nyerocos telah berhasil melarang suami keluar rumah kecuali untuk kerja. Ada yang ke manapun suami pergi harus ikut. Ada juga yang tenang karena yakin suaminya bukan orang yang suka macam-macam.

“Heh Mak, jangan tenang-tenang, kucing kalau ada ikan asin ya dimakan, paling tidak dijilat-jilat tuh.”

“Tenang saja,” kata emak yang lain, “Aku sudah lapor Pak RT, kabarnya hari ini dia menyambangi.”

“Alhamdulillah, mudah-mudahan segera ada jalan keluar dan kampung kita ini kembali tenang.”

“Eh, Mak, jangan tenang dulu, siapa tahu malah Pak RT ikutan yang lain, main api.”

“Haaah, iya juga ya.”

Mendengar ini emak-emak lainnya ternganga.

“Ayuuuk aaah pulang lewat depan rumah Aryo,” lalu emak-emak pada bergegas pulang.

Benar saja, mereka berbaris pulang sengaja melewati rumah Aryo. Tidak dinyana, Pak RT ternyata sedang di sana ngobrol dengan istri Aryo.

Emak-emak tidak berpikir panjang, langsung ngibrit bergegas pulang ke rumah masing-masing dengan isi kepala kurang lebih sama. Pak RT sedang main api dengan istri Aryo. Segera saja berita itu menjadi trending topic menyebar luas ke seluruh kampung.

Di rumah, Pak RT dan istrinya bertengkar hebat. Penjelasan panjang lebarnya tidak masuk ke akal sehat istrinya.

“Pokoknya, tidak ada lagi acara keluar rumah kecuali aku ikut,” kata istri Pak RT.

Begitu juga di rumah-rumah waraga lainnya.  Maka, malamnya Pos Kamling sepi, tidak ada satu orang pun menunaikan tugas ronda malam. Kampung juga sepi, tidak ada lelaki lalu lalang di jalan. Semua pada tinggal rumah.

Esok harinya tejadi kehebohan. Ada dua warga mengadu kehilangan sepeda motor. Ada lagi yang mengadu kehilangan ayam, kehilangan pakaian di jemuran dan beras sekarung di emperan rumah. Esoknya lagi menyusul laporan kehilangan sepeda onthel dan kambing.

Setelah rentetan kejadian itu semua rumah mengunci pagar dan pintu rumah. Namun, sungguh keterlaluan, esok harinya beberapa warga melaporkan pagar rumahnya hilang digondol maling.

Kehidupan warga di kampung ini kini menjadi tidak baik-baik saja seperti biasanya. Lingkungan memang tetap hijau. Sayuran bisa petik di halaman, pohon di halaman mulai berbuah, tetapi hati seisi kampung sedang resah. Hati para emak hari ke hari makin gelisah. Pak RT nyaris menyerah.

Pak RT memahami, pokok sebabnya adalah syak wasangka dan curiga para emak dan para bapak ke istri Aryo, tetapi dia tidak bisa mengusir istri Aryo. Dia berhak tinggal di kampung ini, apalagi wanita cantik itu belum tentu berbuat salah dan belum tentu pula melanggar hukum.

Jangan-jangan warga dipermainkan pikirannya dan diombang-ambingkan prasangkanya sendiri. Pak RT yang mencoba mengatasi masalah ini malah dicurigai main api.

Pak RT meminta saran dan pendapat dari sana-sini dan akhirnya memutuskan untuk menunggu Aryo pulang dan memintanya hidup di kampung bersama istrinya. Jangan lagi meninggalkan istri berlama-lama sendirian.

Pak RT meminta seluruh warga menjga barangnya masing-masing selama menunggu Aryo pulang. Kepada emak-emak diminta, entah sampai kapan, bersiap-siap kehilangan suami yang menghilang akibat terlalu dikekang.

Kabarnya sampai sekarang seluruh kampung masih resah menunggu kapan Aryo pulang.

***

Judul: Resah Menunggu Aryo Pulang
Pengarang: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: Jumari Haryadi

Tentang Pengarang:

Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di Fakultas Kehutanan (E16) IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.

Sarkoro Doso Budiatmoko
Sarkoro Doso Budiatmoko, penulis – (Sumber: Asep (HC) Arie Barajati)

Kesukaannya membaca tidak terbatas, dari buku tebal hingga sekedar bungkus kacang.Kesukaan membaca ini diimbangi dengan kegemaran menulis.Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.

Sebagian dari tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Sedangkan sebagian cerpennya telah dibukukan dengan judul: Dunia Tak Seindah Rembulan” yang juga diterbitkan oleh SIP Publishing, 2024.

Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.

Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *