Sepotong Sunyi di Cimahi, Secangkir Gagasan di Kedai Jante

Artikel ini ditulis oleh: Didin Tulus

Didin Tulus
Didin Tulus, Penulis - (Sumber: BJN)

ASEP NEWSRubrik OPINI, Selasa (09/06/2026) – Artikel berjudul Sepotong Sunyi di Cimahi, Secangkir Gagasan di Kedai Janteini adalah sebuah tulisan karya Didin Tulus ─ seorang penulis, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Siang itu, jarum jam baru saja melewati angka satu. Matahari sedang terik-teriknya ketika saya memacu sepeda motor menuju Jalan Laswi, Kota Bandung. Tujuan saya satu: Kedai Jante ─ sebuah oase bagi para perindu bau kertas dan obrolan bergizi. Perjalanan ini saya lakukan tepat setelah menuntaskan rutinitas mengantar anak dan istri latihan memanah di Pusdikjas.

Namun, aspal Jalan Amir Machmud punya cerita lain. Setang motor mendadak terasa berat. Benar saja, ban belakang mulai kehilangan angin. Di daerah Cilember, saya sempat mampir untuk menambah angin. Keluar uang dua ribu perak, lalu belenyeng deui—tancap gas lagi menuju Bandung. Sialnya, begitu sampai di depan pertokoan Kosambi, ban motor kembali bertingkah. Jalannya klepek-klepekan. Wah, ini bukan sekadar kurang angin, ini pasti bocor!

Ban motor pecah - (Sumber: Didin/BJN)
Ban motor bocor- (Sumber: Didin/BJN)

Sambil berkendara pelan, mata saya culang-cileung mencari tukang tambal ban. Tepat sekitar sepuluh meter sebelum rel kereta api, saya melihat Planet Ban. Beruntung mereka bisa langsung mengesekusi penggantian ban dalam. Lebih beruntung lagi, di kantong saya terselip selembar uang seratus ribu rupiah. Total biaya ban dalam dan ganti oli sore itu habis Rp98.500. Pas pisan! Lucunya, mekanik di sana langsung menyapa nama saya sebelum saya menyodorkan uang pembayaran. Rupanya, nama saya sudah tersistem di basis data mereka. Sebuah kejutan kecil yang menerbitkan senyum.

Ganti ban motor di Planet Ban - (Sumber: Didin/BJN)
Ganti ban motor di Planet Ban – (Sumber: Didin/BJN)

Setibanya di Kedai Jante, suasana akrab langsung menyergap. Kawan-kawan lama sesama pejuang perbukuan menyapa hangat. Karena sudah merasa di rumah sendiri, saya langsung melipir ke meja Kang Deni untuk ninyuh kopi sendiri.

Sembari mata ini mengincar beberapa buku, obrolan kami ujug-ujug bermuara pada memoar Mia. Kebetulan, pagi harinya saya sempat menonton ulasan Muhidin M. Dahlan di YouTube. Pembahasan yang luar biasa menarik. Ingatan saya pun melayang pada kenangan beberapa kali bersua dengan Muhidin di Yogyakarta atau saat menjelajah Kintamani, Bali, bersama Ketua Mojok, Kang Puthut EA.

Di tengah kehangatan obrolan itu, ada rasa getir yang menyelinap. Saya terpaksa ngeloyor ke Bandung hari ini sebenarnya karena didera rasa kesal dan tidak betah di rumah. Di Cimahi, kota tempat saya tinggal, urusan literasi tampaknya berada di urutan paling buncit dalam daftar hajat hidup orang banyak.

Sangat sulit mencari teman sekadar untuk ngobrol ngaler-ngidul tentang dunia buku. Kreativitas warganya terhadap buku begitu minim. Ruang publik kita sunyi dari diskusi esensial. Jangankan di sudut-sudut kota, di media online lokal atau podcast anak muda Cimahi pun, hampir tidak ada yang sudi membedah seluk-beluk perbukuan, mengulas tokoh sastra, atau mendiskusikan penulis-penulis kita yang mendunia. Generasi milenialnya abai, dan yang paling miris, para pejabatnya seperti tidak peduli. Literasi hanya dianggap pajangan, bukan kebutuhan dasar untuk membangun peradaban manusia Cimahi.

Selepas Magrib, saya meluncur pulang membawa dada yang penuh. Di balik kekecewaan pada kota sendiri, pertemuan santai di Jante justru memantik segudang gagasan. Kepala saya dipenuhi rencana menulis tentang Jose Rizal, sang pemikir dan penulis legendaris Filipina. Saya ingat, pemantik bacaan ini datang dari esai Dato Kemala. Saya bertekad akan membongkar kembali file-file surat dari Filipina yang dulu pernah saya telusuri.

Buku tentang Rose Rizal, sang pemikir dan penulis legendaris Filipina yang jadi pemantik saya untuk menulis kisah kehidupannya - (Sumber: Didin/BJN)
Buku tentang Rose Rizal, sang pemikir dan penulis legendaris Filipina yang jadi pemantik saya untuk menulis kisah kehidupannya – (Sumber: Didin/BJN)

Perjalanan pulang diselingi mampir ke Jalan Garuda untuk mengambil cetakan, lalu memutar ke arah Nurtanio untuk membeli bensin. Malam itu ditutup dengan nostalgia di tukang roti bakar langganan zaman bujangan, persis di tempat lamanya, di bawah jembatan trotoar samping kue balok. Suasana sangat hidup, orang-orang duduk lesehan di batu melingkar.

Sang penjual, yang masih hafal wajah saya, menyajikan roti bakar seharga Rp27.000 dengan bumbu kacang yang lekoh dan lumer. Mantap! Saya sudah menjelajah kuliner roti dari Cicaheum, Cibiru, Cicadas, Jamika, Cibeureum, Cimindi, hingga ke depan Pizza Hut dekat Toko Swalayan Yogya Cimahi. Bahkan, sampai mencicipi Roti Sidodadi di Jalan Otista. Namun, roti Jalan Garuda ini tetap jawaranya. Di Cimahi, saya belum menemukan tukang roti yang teu lebar ku bumbu (tidak pelit bumbu) seperti ini.

Malam itu saya pulang ke Cimahi, kenyang oleh roti yang royal bumbu, sekaligus kenyang oleh ide-ide yang terus menari di kepala. Perjalanan satu hari yang melelahkan, namun penuh gizi bagi jiwa seorang perindu kata. (Didin Tulus).

***

Judul: Sepotong Sunyi di Cimahi, Secangkir Gagasan di Kedai Jante
Penulis: Didin Tulus
Editor: Asep (HC) Arie Barajati

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Didin Tulus
Didin Tulus, Penulis dan Pegiat Literasi di Kota Cimahi – (Sumber: Koleksi pribadi)

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Aktivitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *