ASEP NEWS – Rubrik OPINI, Selasa (27/01/2026) – Artikel berjudul “Pelukan Jeda, Kasih Tak Terbatas: Kisah Ibu dan Orok Mungilku” ini adalah sebuah memoar karya Didin Tulus ─ seorang penulis, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Nak, lihat deh foto ini. Gemes banget, kan? Itu kamu loh, pas masih seukuran guling bayi, dibedong rapat-rapat kayak lontong, lagi digendong sama ibu pas acara prajabatan. Matamu masih merem melek, wajahmu damai banget, mungkin lagi mimpi ketemu susu gratisan.
Kala itu, ibu lagi di tengah-tengah pendidikan prajabatan, semacam kawah candradimuka buat para calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) kayak ibu ini. Bayangin Nak, ibu harus berjauhan sama kamu. Beberapa minggu itu rasanya panjang banget, kayak setahun lamanya. Biasanya kan, setiap dengar suara “ngeeek” dikit aja dari mulut mungilmu, ibu langsung sigap mendekap, ngasih ASI hangat. Tapi waktu itu, ada batas yang menghalangi.

Pagi-pagi buta, pas azan Subuh masih sayup-sayup terdengar, ibu udah sibuk nyiapin diri buat berangkat. Mandi kilat, pakai seragam, dan buru-buru nyusuin kamu. Rasanya tuh, waktu lima belas menit itu berharga banget, kayak tiap tetes ASI yang kamu minum adalah bekal energi buat ibu bisa bertahan seharian tanpa kamu. Jam tujuh pagi, ibu udah harus melenggang pergi, meninggalkan kamu yang masih pulas di pelukan ayah.
Enggak bisa dipungkiri Nak, hati ibu itu rasanya kecubit-cubit setiap kali harus ninggalin kamu. Ada rasa bersalah, ada kangen yang tiba-tiba meluap. Mikirin kamu nangis nyariin ibu. Mikirin kamu enggak nyaman karena bukan ibu yang gendong. Tapi ibu tahu, ini semua demi masa depan kita. Demi bisa ngasih yang terbaik buat kamu.
Beruntungnya, ayahmu itu super duper siaga! Selama ibu prajabatan, ayahmulah pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu mendampingi kamu. Mulai dari pagi sampai siang. Bahkan, sampai malam. Kamu itu ada dalam dekapan ayah.
Ayahlah yang nyiapin susu formula buatmu kalau ASI ibu lagi enggak bisa dijangkau. Beliau yang nyabarin kamu kalau kamu rewel. Beliau yang gendong kamu sambil ngerjain kerjaan kantornya.
Kadang ibu suka ngebayangin, jangan-jangan kamu sampai hafal lagu-lagu dangdut kesukaan ayahmu saking seringnya digendong beliau sambil nyanyi-nyanyi fals.
Setiap istirahat siang, jam 12 tepat, ibu langsung buru-buru nyari tempat yang aman buat memerah ASI. Kadang di toilet, kadang di pojokan ruangan yang sepi. Rasanya aneh banget Nak, nyusuin enggak langsung ke kamu, tapi ke botol. Tapi demi kamu, ibu lakuin semua itu. Tiap tetes ASI yang terkumpul itu adalah perjuangan ibu, wujud cinta ibu yang nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Malam harinya, itu adalah momen yang paling ibu tunggu-tunggu. Pulang dari prajabatan, ibu langsung nyosor nyari kamu. Lalu ibu peluk erat-erat dan ciumin pipimu yang gembul, lalu yang paling penting: ibu bisa menyusuimu sepuasnya. Rasanya itu kayak bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Segala penat, segala lelah, langsung hilang begitu saja pas kamu nempel di dada ibu, menikmati ASI yang udah ibu perjuangkan seharian.
Dari pengalaman itu, ibu belajar banyak, Nak. Belajar tentang kekuatan diri, tentang arti perjuangan, dan yang paling utama tentang besarnya cinta seorang ibu. Meskipun ada jarak, meskipun ada waktu yang memisahkan, tapi ikatan batin kita nggak pernah putus. Cinta ibu selalu ada, melingkupi kamu di mana pun dan kapan pun.
Jadi Nak, setiap kali kamu merasa lelah, merasa ingin menyerah, lihatlah foto ini. Ingatlah perjuangan ibu dan ayah. Ingatlah bagaimana kita pernah melewati masa-masa sulit bersama. Jadikan itu cambuk semangatmu. Seperti kata pepatah di foto itu “Usia tidak menuakan jiwa Yang menuakan jiwa adalah berhentinya harapan dalam hidup”.
Selama ada harapan, selama ada cinta, kita akan selalu bisa melewati semuanya. Ibu sayang kamu, Nak. Selalu dan selamanya. (Didin Tulus).
***
Judul: Pelukan Jeda, Kasih Tak Terbatas: Kisah Ibu dan Orok Mungilku
Penulis: Didin Tulus
Editor: Asep (HC) Arie Barajati










