Esai: Geopolitik, Pertahanan, Ekonomi, dan Nasib Bangsa Ini

Artikel ini ditulis oleh: Ki Asep Kuswani

Rumah besar NKRI
Ilustrasi: Rumah besar NKRI - (Sumber: Asep News)

ASEP NEWS, Kolom OPINI, Senin (15/06/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul Esai: Geopolitik, Pertahanan, Ekonomi, dan Nasib Bangsa Ini” ini ditulis oleh: Ki Asep Kuswani alias Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS), Ketua Dewan Pembina (KDP) Paguyuban Asep Dunia (PAD),  Dewan Pembina Asosiasi Media Independen Online (MIO) Indonesia, dan founder Asep News (AsepNews.id).

Negara itu seperti rumah tangga besar. Ada tetangga kiri-kanan, ada pagar, ada dapur buat masak. Kalau tetangganya rame, pagarnya rapuh, dapurnya kosong, penghuni rumah pasti gelisah. Itulah Indonesia hari ini. Tiga hal yang nentuin tenang atau tidaknya “rumah” bernama NKRI: Geopolitik, Pertahanan, dan Ekonomi.

1. Geopolitik: Duduk di Kursi Paling Strategis

Indonesia nggak bisa pilih mau lahir di mana. Kita lahir diapit Samudra Hindia dan Pasifik, diapit Asia dan Australia. Selat Malaka sampai Selat Lombok itu “jalan tol” dunia. 40% kapal dagang dunia lewat sini. Beruntung? Iya. Repot? Juga iya.

Karena strategis, semua negara besar ngelirik. Amerika tawarkan kerja sama militer, China tawarkan investasi kereta cepat, Australia ngajak jaga laut. Kebijakan “bebas aktif” kita diuji tiap hari: berteman sama semua, tapi tunduk sama siapa pun tidak. Kalau salah langkah, kita bisa jadi “lapangan catur” perebutan kuasa. Kalau cerdas, kita jadi “wasit” yang disegani.

Ki Asep Kuswani, Penulis - (Sumber: Asep News)
Ki Asep Kuswani, Penulis – (Sumber: Asep News)

2. Pertahanan: Pagar Rumah Harus Kuat, Tapi Nggak Nyerang Tetangga

Rumah bagus tanpa pagar = gampang kemalingan. Pagar terlalu tinggi dan bawa golok = tetangga takut. Doktrin pertahanan kita “Minimum Essential Force” itu pagar secukupnya. Kuat buat jaga diri, bukan buat ngajak berantem.

Tantangannya nyata: 3,2 juta km² laut harus dijaga. Nelayan kita sering diusir di Natuna. Data negara sering dibobol hacker. Tapi TNI 400 ribu orang nggak mungkin jagain 17 ribu pulau sendirian. Makanya ada “pertahanan rakyat semesta”. Bapak-bapak Linmas, ibu PKK, anak muda pesisir, semua jadi “mata” negara. Bela negara zaman sekarang bukan cuma pegang senjata. Cukup lapor kalau lihat kapal asing aneh, cukup nggak sebar hoaks.

3. Ekonomi: Dapur Rumah Tangga Indonesia

Kalau geopolitik itu panggung, pertahanan itu pagar, maka ekonomi itu dapur. Dapur berasap = keluarga senyum. Dapur ngebul tapi kosong = keluarga ribut.

Indonesia punya dapur paling lengkap: nikel, sawit, batu bara, laut, tanah subur, pasar 280 juta orang. Sayangnya selama ini kita jual berasnya, bukan jual nasinya. Nikel mentah diekspor, untungnya dinikmati pabrik di luar. Itu yang mau diputus lewat hilirisasi.

Tapi dapur kita juga masih bocor. Masih impor BBM, masih impor beras, utang dijaga ketat biar nggak jebol. Kalau dolar naik, harga di warung di lemburku ikut naik. Kalau investor kabur, anak muda susah kerja.

Lalu Pengaruhnya ke Kita Gimana?

Sangat langsung saudaraku. Kalau geopolitik kita cerdas + pertahanan kuat + ekonomi mandiri = harga di pasar stabil, kerjaan banyak dari pabrik baterai, nelayan tenang melaut, anak sekolah aman. Kita beda suku, beda partai, tapi tetap bilang “kita orang Indonesia”.

Sebaliknya, kalau 3 ini lemah = rupiah anjlok, demo di mana-mana, hoaks geopolitik bikin kita curiga sama tetangga beda agama. Negara luar nggak perlu bom kita. Cukup bikin kita ribut sendiri lewat HP.

Penutup: Kuncinya Ada di Kita

Rumah sebesar Indonesia nggak akan kuat kalau penghuninya acuh. Presiden bisa bikin strategi, TNI bisa patroli, Menteri bisa hitung APBN. Tapi kalau masih ada yang yang masih sebar hoaks di WAG, masih benci sama tetangga beda pilihan, maka “pagar” dan “dapurnya” percuma.

Jadi, bela negara versi warga biasa itu sederhana: bayar pajak jujur, beli produk UMKM, saring berita sebelum share, rukun sama tetangga.

Tingkat menengah atasnya amanah, jujur, jangan korupsi lah , karena negara aman dan makmur itu nggak turun dari langit. Dia lahir dari kebiasaan baik 280 juta orang dengan para pemimpin nya yang amanah, jujur tidak korupsi dan memiliki moral yang baik serta berintegritas.

Pagar kuat, dapur ngebul, tetangga segan. Itulah Indonesia yang kita mau, bukan?

Tetap semangat, optimis bravo Indonesia ku

***

Judul: Esai: Geopolitik, Pertahanan, Ekonomi, dan Nasib Bangsa Ini
Penulis: Ki Asep Kuswani
Editor: Asep (HC) Arie Barajati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *