Secercah Sinar Mentari Pagi: Sebuah Analogi untuk Pemimpin Sejati

Artikel ini ditulis oleh: Ki Asep Kuswani

Ilustrasi: Lelaki tua sedang asip menikmati secangkir kopi sambil memandang indahnya suasana pagi di pedesaan - (Sumber: Asep News)
Ilustrasi: Lelaki tua sedang asip menikmati secangkir kopi sambil memandang indahnya suasana pagi di pedesaan - (Sumber: Asep News)

ASEP NEWS, Kolom OPINI, Kamis (23/07/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul Secercah Sinar Mentari Pagi: Sebuah Analogi untuk Pemimpin Sejati” ini ditulis oleh: Ki Asep Kuswani alias Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS), Ketua Dewan Pembina (KDP) Paguyuban Asep Dunia (PAD),  Dewan Pembina Asosiasi Media Independen Online (MIO) Indonesia, dan founder Asep News (AsepNews.id).

Pagi selalu datang membawa janji. Langit yang tadinya gelap perlahan berubah jingga, lalu mentari muncul membawa hangat. Secercah sinarnya tidak langsung menyilaukan, tetapi cukup untuk membangunkan, menerangi, dan menghidupkan. Begitulah seharusnya seorang pemimpin: seperti sinar mentari pagi. Tidak memaksa, tetapi kehadirannya membuat rakyat bangun, bergerak, dan percaya bahwa hari ini akan lebih baik dari kemarin.

Mentari tidak pernah terlambat terbit karena ia tunduk pada Sang Pencipta. Pemimpin pun demikian. Ketakwaan adalah kompas utama. Tanpa takwa, kekuasaan akan buta arah. Pemimpin yang bertakwa sadar bahwa jabatannya adalah titipan. Ia takut berkhianat kepada rakyat karena lebih dulu takut kepada Allah. Dari ketakwaan lahir kejujuran, kerendahan hati, dan niat untuk mengabdi, bukan untuk berkuasa.

Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han.
KI Asep Kuswani, penulis – (Sumber: Asep News)

Sinar matahari menyinari semua tanpa memilih. Ia menyinari istana dan gubuk dengan intensitas yang sama. Pemimpin yang adil harus menegakkan hukum seperti itu. Tidak ada “anak emas” dan “anak tiri” di hadapan hukum. Pejabat salah harus dihukum, rakyat kecil dizalimi harus dibela. Jika hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, maka negeri ini akan gelap gulita meski dipimpin seribu orang pintar

Mentari berani muncul meski semalam badai. Pemimpin juga harus berani mengatakan yang benar walau pahit, berani mengambil keputusan walau tidak populer. Keberanian tanpa tanggung jawab adalah nafsu. Karena itu setiap keputusan harus dipikul sampai tuntas. Kalau rakyat miskin, pemimpin tidak boleh cuci tangan. Kalau kebijakan gagal, pemimpin harus berani perbaiki, bukan menyalahkan keadaan.

Rasulullah SAW adalah contoh pemimpin sempurna. Sidik = jujur dalam ucapan dan tindakan. Amanah = menjaga titipan rakyat seolah titipan Allah. Fathonah = cerdas, bijaksana dalam menyusun strategi dan menyelesaikan masalah. Tabligh = komunikatif, menyampaikan visi dengan jelas agar rakyat paham dan mau bergerak bersama. Pemimpin hari ini tidak perlu sempurna seperti Nabi, tetapi wajib menjadikan empat sifat ini sebagai cermin.

Begitu juga di tatar Sunda, kita punya teladan Prabu Siliwangi. Beliau memimpin bukan dengan kesombongan, tapi dengan welas asih. Zaman Kerajaan Pajajaran dikenal makmur, adil, dan disegani karena rajanya dekat dengan rakyat, menjaga adat, menjaga hutan, menjaga harga diri bangsa. Prabu Siliwangi mengajarkan bahwa pemimpin kuat adalah yang dicintai rakyatnya, bukan yang ditakuti. Semangat “silih asah, silih asih, silih asuh” adalah ruh kepemimpinan nusantara yang harus hidup kembali.

Tujuan mentari terbit bukan untuk dipuji, tapi agar padi tumbuh, agar orang bisa bekerja, agar anak-anak bisa sekolah. Sama dengan pemimpin. Ukurannya bukan berapa gedung pencakar langit yang dibangun, tetapi berapa perut yang kenyang, berapa anak yang bisa sekolah, berapa orang tua yang bisa tidur nyenyak tanpa takut. Pemimpin sejati menciptakan rasa aman. Rasa aman dari lapar, dari ketidakadilan, dari rasa takut.

Mentari tidak pernah bertanya “kamu suku apa, agamamu apa, pilihanku apa” sebelum menyinari. Pemimpin juga begitu. Pelayanan harus sama untuk petani di tanah ini, nelayan di pantai, pedagang di pasar, dan dosen di kampus. Politik boleh beda, tapi dalam melayani, semua adalah anak bangsa yang berhak sejahtera.

Cita-cita tertinggi kita adalah negeri yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur — negeri yang baik, yang tanahnya subur, masyarakatnya berakhlak, dan mendapat ampunan dari Tuhan. Negeri seperti ini tidak turun dari langit. Ia dibangun oleh pemimpin yang bertakwa, rakyat yang kerja keras, dan hukum yang ditegakkan. Jika poin poin di atas dijalankan, maka secercah sinar mentari pagi itu akan berubah menjadi terang benderang sepanjang hari.

Penutup 

Secercah sinar mentari pagi mengingatkan kita: perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil yang konsisten. Pemimpin tidak harus sempurna, tapi harus punya niat lurus, hati bersih, dan tangan yang mau bekerja.

Jika hari ini kita merindukan negeri yang damai dan sejahtera maka mari kita mulai menuntut dan melahirkan pemimpin-pemimpin yang seperti mentari: menerangi tanpa membakar, menghangatkan tanpa membeda-bedakan, dan setia terbit setiap pagi untuk rakyatnya.

***

Judul: Secercah Sinar Mentari Pagi: Sebuah Analogi untuk Pemimpin Sejati
Penulis: Ki Asep Kuswani
Editor: Asep (HC) Arie Barajati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *