ASEP NEWS, Kolom OPINI, Jumat (04/09/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Jangan Kau Gadaikan Cintaku” ini ditulis oleh: Ki Asep Kuswani alias Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS), Ketua Dewan Pembina (KDP) Paguyuban Asep Dunia (PAD), Dewan Pembina Asosiasi Media Independen Online (MIO) Indonesia, dan founder Asep News (AsepNews.id).
Saudaraku, rasanya judul ini seperti lagunya Gombloh ya? Namun, ini serupa, tetapi berbeda. Ini tentang cinta kepada negeri ini.
Sambil menyeruput secangkir kopi, marilah untuk merenung bersama sejenak. Konon negeri kita yang subur makmur, tetapi sampai sejauh mana kecintaan kita kepada negeri ini?
Negeri ini bukan barang dagangan. Bukan benda yang bisa ditukar. Bukan aset yang bisa dijaminkan. Bukan harta yang bisa dijual laku demi keuntungan sesaat. Ia adalah darah para pendahulu, keringat jutaan rakyat, doa ibu-ibu yang melepaskan anaknya berjuang, dan janji suci yang dibacakan di hari kemerdekaan.
Kemerdekaan itu bukan hadiah — ia adalah amanah. Amanah yang tak boleh digadaikan, tak boleh dijual, tak boleh diserahkan kepada siapa pun, atas nama apa pun. Judul ini bukan sekadar ungkapan hati — ini adalah peringatan tegas, perjanjian batin, dan sumpah setia kepada tanah air: Jangan kau gadaikan negeriku.

Setidaknya ada lima alasan yang bisa kita ulas terkait hal tersebut. Pertama, apa itu menggadaikan cintaku? Cintaku ini mirip seperti lagunya Gombloh, tetapi lebih mendalam lagi cinta kepada negeri ini.
Menggadaikan negeri tidak selalu berarti menyerahkan tanah secara fisik. Lebih halus, lebih berbahaya — ia terjadi ketika kedaulatan dikorbankan demi keuntungan golongan, ketika kebijakan dibuat menuruti perintah asing, ketika kekayaan alam diambil murah tanpa manfaat bagi rakyat, ketika utang luar negeri mengikat kebebasan menentukan nasib sendiri, dan ketika pertahanan serta keamanan negara berada di bawah pengaruh pihak lain.
Semua itu adalah bentuk penggadaian — tampak damai, tampak menguntungkan, namun perlahan merampas kemerdekaan yang sudah dibayar dengan nyawa.
Kedua, harga kemerdekaan yang Tak Tergantikan. Para pahlawan tidak berjuang agar kita hari ini menyerahkan negeri ini kepada siapa pun. Mereka melepaskan tanah kelahirannya, meninggalkan keluarga, berjalan tanpa alas kaki, bertempur tanpa senjata lengkap — bukan agar kita menjual warisan itu.
Setiap jengkal tanah, setiap tetes air, setiap gunung dan hutan — semuanya sudah dibayar mahal. Tidak ada uang, tidak ada investasi, tidak ada janji kemakmuran yang boleh menandingi harga itu. Menggadaikan negeri berarti melupakan pengorbanan itu — dan itu adalah dosa terbesar bagi generasi penerus.

Ketiga, ancaman yang datang tanpa bunyi. Pada masa kini, penjajahan tidak lagi datang dengan meriam dan pasukan. Ia datang dalam bentuk kerja sama yang menguntungkan sepihak, utang yang mengikat kebijakan, teknologi yang dikendalikan dari luar, investasi yang menguasai sumber daya strategis, dan pengaruh budaya yang melemahkan jati diri bangsa.
Banyak negara yang terlihat merdeka, tetapi sebenarnya sudah kehilangan kendali atas negaranya sendiri — rakyatnya tetap miskin, kekayaannya mengalir ke luar, dan kebijakannya diatur oleh pihak lain. Itulah bahaya menggadaikan negeri: kemerdekaan tinggal nama saja.
Keempat, kedaulatan di atas segalanya. Kemakmuran tanpa kemerdekaan adalah perbudakan. Pembangunan tanpa kedaulatan adalah pembangunan untuk orang lain. Kita boleh bekerja sama dengan bangsa mana saja, boleh berdagang, boleh belajar — tetapi dengan syarat: kita yang memegang kendali. Kepentingan rakyat harus menjadi ukuran pertama dan terakhir.
Kekayaan alam harus dikelola untuk kesejahteraan seluruh rakyat, bukan untuk segelintir orang atau pihak asing. Pertahanan negara harus kuat dan mandiri, agar tidak ada yang berani menekan atau mengancam. Kemandirian pangan, energi, dan ekonomi adalah benteng — tanpa itu, negeri ini mudah digadaikan kapan saja.
Kelima, tanggung jawab kita bersama. Menjaga negeri agar tidak digadaikan bukan tugas pemerintah saja. Itu tugas setiap kita — setiap orang yang menyebut dirinya putra Indonesia. Bagi pemimpin: jujurlah, beranilah, dan utamakan rakyat di atas segalanya. Bagi rakyat: sadarilah, awasilah, dan bersatulah. Jangan biarkan perpecahan membuat kita lemah — karena negeri yang terpecah adalah negeri yang paling mudah digadaikan. Kesatuan, kewaspadaan, dan cinta tanah air adalah kunci agar amanah ini tetap terjaga hingga generasi mendatang.
Saudaraku, sambil menyeruput secangkir kopi dari apa yang diutarakan di atas tadi kita bisa menyimpulkan bahwa negeri ini milik kita — tetapi bukan milik kita semata. Kita memegangnya untuk sementara waktu, lalu akan menyerahkannya kepada anak cucu kita.
Jika kita menyerahkannya dalam keadaan sudah digadaikan, sudah hilang kedaulatannya, sudah tidak bebas lagi — apa yang akan kita katakan kepada mereka? Bahwa kita lebih mencintai keuntungan sesaat daripada masa depan mereka? Bahwa kita lebih takut pada tekanan luar daripada menjaga amanah?
Biarlah kalimat ini menjadi sumpah dan janji kita semua: Takkan kugadaikan negeriku. Takkan kujual kedaulatannya. Takkan kuserahkan kepada siapa pun, atas nama apa pun karena ini tanah tumpah darahku — tempatku lahir, tempatku berjuang, dan tempatku berpulang. Ini negeriku, dan ini — selamanya — milik rakyat Indonesia.
***
Judul: Jangan Kau Gadaikan Cintaku
Penulis: Ki Asep Kuswani
Editor: Asep (HC) Arie Barajati








