ASEP NEWS, Kolom OPINI, Jumat (07/08/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Revitalisasi Semangat Kemerdekaan pada Usia ke-81 Republik Indonesia” ini ditulis oleh: Ki Asep Kuswani alias Mayjen TNI (Purn.) Asep Kuswani, S.H., M.Si.Han., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS), Ketua Dewan Pembina (KDP) Paguyuban Asep Dunia (PAD), Dewan Pembina Asosiasi Media Independen Online (MIO) Indonesia, dan founder Asep News (AsepNews.id).
Kemerdekaan bukan hanya peristiwa 17 Agustus 1945. Kemerdekaan adalah pekerjaan rumah yang belum selesai. Tahun ini, 2026, Republik Indonesia genap berusia 81 tahun. Angka 81 bukan sekadar angka. Ia adalah cermin. Sudah sejauh apa kita melangkah dan sejauh mana kita masih tertinggal.
Pada usia yang sudah matang ini, bangsa kita tidak lagi butuh sekadar upacara dan seremonial. Yang kita butuh adalah revitalisasi — menghidupkan kembali makna merdeka dalam denyut kehidupan sehari-hari.

1. Revitalisasi Makna: Dari Merdeka Bendera ke Merdeka Perut
Dulu para pejuang bertempur untuk merdeka dari penjajahan. Hari ini pertempuran kita berbeda: melawan kemiskinan, stunting, putus sekolah, dan ketergantungan impor.
Revitalisasi berarti mengembalikan kemerdekaan ke ranah yang paling nyata: dapur rakyat. Apakah petani kita sudah merdeka dari tengkulak? Apakah UMKM kita sudah merdeka dari utang rentenir? Apakah anak-anak kita sudah merdeka untuk bermimpi tanpa takut biaya? Jika belum maka kemerdekaan kita masih setengah jalan.
2. Revitalisasi Mental: Dari Mental Pengeluh ke Mental Pejuang
Usia 81 tahun kemerdekaan seharusnya cukup untuk menumbuhkan mental juara. Namun, sering kita masih terjebak dalam dua kutub: menyalahkan pemerintah, atau menunggu bantuan.
Pejuang 1945 tidak punya banyak fasilitas, tetapi punya nyali. Revitalisasi hari ini adalah membangun kembali mental itu: mental gotong royong, mental produktif, mental “tidak bisa” diubah jadi “kita coba”. Guru mengajar sepenuh hati, petani menanam dengan inovasi, siswa belajar bukan untuk ijazah, tapi untuk solusi. Itu bentuk kemerdekaan baru.
3. Revitalisasi Aksi: Dari Upacara ke Aksi Nyata
Bendera sudah berkibar tiap 17 Agustus. Namun, pertanyaannya: setelah bendera diturunkan, apa yang kita lakukan?
Revitalisasi menuntut aksi kecil yang konsisten. Di SMK: mencetak lulusan yang siap kerja dan membuka lapangan kerja. Di desa: mengelola sampah dan BUMDes dengan serius. Di kota: membeli produk lokal. Di rumah: mengajarkan anak sejarah bukan lewat hapalan, tetapi lewat teladan. Kemerdekaan akan hidup jika setiap kita menjadi “prajurit” di bidangnya masing-masing.
PENUTUP
Usia 81 tahun Indonesia merdeka. Kita tidak boleh lagi merayakan dengan nostalgia saja. Kita harus merayakan dengan kerja. Soekarno pernah bilang, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.”
Pada usia 81 tahun ini, mari kita tambah, “Jangan sekali-kali hanya mengingat sejarah, tanpa mengulang semangatnya.”
Revitalisasi kemerdekaan bukan tugas presiden saja. Ia tugas kita semua. Mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dari kelas kita, dari bengkel kita, dari sawah kita. Bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya merdeka 81 tahun lalu, tetapi bangsa yang terus memperbarui kemerdekaannya setiap hari.
***
Judul: Revitalisasi Semangat Kemerdekaan pada Usia ke-81 Republik Indonesia
Penulis: Ki Asep Kuswani
Editor: Asep (HC) Arie Barajati










