ASEP NEWS, Kolom OPINI, Rabu (25/06/2025) ─ Artikel berjudul “Payung di Tengah Badai: Menyiapkan Indonesia dari Ancaman Perang Dunia” ini ditulis oleh Asep (HC) Arie Barajati, seorang pengamat sosial dan politik yang tinggal di Kabupaten Bandung Barat.
Dunia kembali bergetar di bawah ancaman yang tak hanya mengguncang wilayah, tapi berpotensi mengguncang peradaban. Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat pada pertengahan 2025 telah memuncak dalam serangan udara besar-besaran yang menyasar fasilitas nuklir strategis Iran di Fordo, Natanz, dan Isfahan. Dentuman diplomasi digantikan denting senjata. Dunia menahan napas.
Banyak pengamat mulai menyuarakan satu frasa yang selama ini hanya menghuni buku sejarah: kemungkinan Perang Dunia Ketiga. Bukan perang biasa, tapi perang yang membawa bayangan senjata nuklir, kehancuran atmosfer, dan krisis kemanusiaan global. Di tengah kekacauan ini, Indonesia—negeri tropis yang jauh dari pusat konflik—mungkin terlihat tenang di permukaan. Namun di kedalaman sistem ekonominya, lingkungan, dan sosialnya, badai global itu bisa merembes dengan sangat cepat dan mematikan.

Indonesia memang bukan pemain utama dalam peta konflik Timur Tengah, tetapi ibarat sebuah perahu di tengah samudra luas, ketika gelombang besar datang, yang diam pun bisa karam. Dalam konteks globalisasi yang saling terhubung, krisis di satu belahan dunia dengan mudah menjalar ke belahan lainnya. Ekonomi Indonesia, misalnya, sangat bergantung pada impor gandum, kedelai, pupuk, dan energi fosil. Data dari United States Department of Agriculture (USDA) mencatat bahwa pada 2024 Indonesia mengimpor lebih dari 11 juta ton gandum, menjadikannya salah satu importir terbesar di dunia. Sementara itu, kedelai—bahan utama tahu dan tempe yang menjadi makanan rakyat kecil—diimpor sekitar 2,5 juta ton per tahun. Jika perang global menghantam rantai pasok, maka jangan heran jika harga-harga bahan pokok melonjak tajam, bahkan menembus langit.
Ketahanan pangan bisa menjadi titik rawan pertama. Dengan ketergantungan pada pasar luar, Indonesia akan menghadapi risiko besar ketika negara-negara eksportir menghentikan pengiriman demi menyelamatkan stok dalam negeri mereka. Di pasar-pasar tradisional, rakyat akan mulai mengantre lebih panjang, sementara di warung-warung, rak-rak bisa menjadi kosong. Ini bukanlah cerita fiksi distopia, tetapi potensi nyata yang menghantui bila krisis global dibiarkan meluas tanpa kendali.
Belum lagi ancaman lingkungan. Jika perang benar-benar melibatkan senjata nuklir, dunia bisa memasuki fase yang disebut “nuclear winter”, ketika asap dan debu radioaktif memenuhi atmosfer dan menghalangi sinar matahari. Akibatnya, suhu bumi menurun drastis, panen gagal, dan laut tak lagi hangat bagi nelayan. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, angin muson dapat membawa sisa-sisa radioaktif dari kawasan konflik. Hujan tak lagi menjadi berkah, tetapi membawa racun yang menetes ke sawah-sawah dan sungai, mencemari air, tanah, dan udara.
Di sisi sosial-politik, gejolak bisa menjadi keniscayaan. Sejarah telah mencatat bahwa kelangkaan dan inflasi selalu beriringan dengan instabilitas sosial. Rakyat yang lapar lebih mudah diprovokasi. Kemarahan bisa meluas. Konflik horizontal akibat perebutan sumber daya bisa pecah di berbagai wilayah, terutama di daerah-daerah yang sudah rentan. Arus urbanisasi mungkin akan berbalik, menciptakan eksodus dari kota ke desa, bukan karena pembangunan merata, tapi karena bertahan hidup lebih memungkinkan di tempat yang masih punya kebun dan sumur.
Namun, seperti kata pepatah tua, ketika angin badai datang, bukan hanya pohon yang tumbang. Ada juga akar yang mencengkeram lebih dalam. Di tengah potensi kehancuran ini, Indonesia masih memiliki pilihan untuk menenun kekuatannya—jika disiapkan sejak kini.
Pemerintah perlu mengambil langkah strategis, bukan hanya reaktif. Membangun cadangan pangan nasional secara serius dan mendistribusikannya secara adil harus menjadi prioritas. Demikian pula dengan pengembangan energi alternatif, penguatan diplomasi internasional, serta sosialisasi protokol darurat kepada masyarakat. Krisis tak bisa ditangani dengan diam-diam. Butuh partisipasi aktif dari warga negara agar semua merasa terlibat dan siap.
Di tingkat masyarakat, kesadaran tentang ketahanan lokal harus dibangun. Urban farming, hidroponik, komunitas tani, dan sistem logistik mandiri perlu dipromosikan. Bukan sekadar proyek hobi, melainkan gerakan nyata menyelamatkan bangsa dari ketergantungan yang mematikan. Pendidikan tentang survival dasar, pengelolaan air, sanitasi, dan pertolongan pertama menjadi lebih relevan dari sebelumnya.
Dunia usaha dan komunitas adat juga memainkan peran krusial. Sistem barter lokal bisa menjadi penyangga ekonomi saat sistem moneter terguncang. Pusat logistik berbasis komunitas perlu dibangun dengan semangat gotong royong. Di sinilah nilai-nilai budaya Nusantara menjadi perisai—ketika dunia runtuh, kita tidak kehilangan akar.
Badai memang tidak bisa kita cegah. Kita tak punya kendali atas pemimpin dunia yang gegabah menekan tombol perang. Tapi kita punya kendali atas bagaimana kita bersiap, bergandeng tangan, dan menjaga negeri ini tetap berdiri. Indonesia adalah rumah besar yang dihuni oleh lebih dari 270 juta jiwa. Ia tak boleh dibiarkan retak karena ulah segelintir manusia di belahan bumi lain.
Mungkin kita tak bisa menghentikan perang dunia, tetapi kita bisa menyiapkan payung bersama, agar hujan kehancuran tak sampai merendam kaki kita. Dan mungkin, dari negeri tropis yang damai ini, bisa lahir satu suara: bahwa kemanusiaan lebih penting dari kekuasaan, bahwa kedamaian lebih berharga dari kemenangan, dan bahwa kehidupan, selalu layak diperjuangkan.
***
Judul: Payung di Tengah Badai: Menyiapkan Indonesia dari Ancaman Perang Dunia
Penulis: Asep (HC) Arie Barajati
Editor: Jumari Haryadi












