ASEP NEWS, Kolom OPINI, Selasa (22/09/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Semangat Rakyat, Api yang Tak Pernah Padam: Sebuah Renungan tentang Gerakan Koperasi dari Akar Nusantara” ini merupakan Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi: Edisi 22 September 2026 yang ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Anggota Dewan Pini Sepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Dengarkan. Dengarkan baik-baik. Ada suara yang lebih tua dari kata-kata. Ada api yang lebih tua dari nyala. Ada semangat yang lebih tua dari nama yang kita berikan padanya yaitu: semangat rakyat.
Semangat rakyat ini tidak lahir di ruang rapat. Ia tidak lahir di atas kertas. Ia tidak lahir dari instruksi. Ia lahir dari tanah. Dari keringat. Dari air mata. Dari harapan yang tidak pernah padam meskipun badai datang silih berganti.
Di Taos Pueblo, Nancy Wood mendengarkan matahari menjerit. Di Nusantara, kita mendengarkan gunung bergemuruh. Laut bergelora. Hutan bernyanyi. Dan di antara semua suara itu, ada suara yang paling lembut, paling dalam, paling abadi: suara rakyat.
Suara rakyat menjeritkan bahwa tanah ini bukan komoditas. Ia menjeritkan bahwa air ini bukan sumber daya. Ia menjeritkan bahwa hidup ini bukan akumulasi. Ia menjeritkan bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Di Tapang Sambas, pada tahun 1993, dua belas orang meletakkan uang mereka di atas meja. Rp 291.000. Sebuah jumlah yang kecil. Sebuah jumlah yang absurd dalam logika perbankan. Tetapi mereka tidak meletakkan uang. Mereka meletakkan kepercayaan. Mereka meletakkan semangat. Mereka meletakkan diri mereka sendiri.
“Rasanya seperti miliaran,” kata Ibu Maria, “Itu bukan sekadar uang. Itu adalah kepercayaan yang kami letakkan di atas meja.”
Kepercayaan. Itulah semangat rakyat. Itulah api yang tidak pernah padam. Itulah yang membuat dua belas orang menjadi dua ratus ribu. Itulah yang membuat Rp 291.000 menjadi Rp 2,3 triliun.
Tunggu dulu. Jangan terburu-buru. Jangan berpikir bahwa ini adalah kisah tentang uang. Ini bukan kisah tentang uang. Ini adalah kisah tentang semangat, tentang api, tentang rakyat yang bangkit dan berkata, “Kita bisa.”
Kita bisa apa? Kita bisa membangun masa depan bersama. Kita bisa keluar dari jerat rentenir. Kita bisa menyekolahkan anak-anak kita. Kita bisa hidup dengan martabat.
Semangat itu tidak lahir dari Inpres. Tidak lahir dari instruksi. Tidak lahir dari proyek pemerintah. Semangat itu lahir dari dalam. Dari kesadaran bahwa kita tidak harus menerima nasib yang diberikan. Dari keberanian untuk bermimpi. Dari keyakinan bahwa bersama, kita lebih kuat.
Dengarkan. Dengarkan baik-baik. Ketika Bung Karno dan Bung Hatta dibawa ke Rengasdengklok, ketika golongan muda mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan, ketika Wikana mengancam akan ada pertumpahan darah—saat itu, semangat rakyat sedang berbicara. Semangat yang tidak mau menunggu. Semangat yang tidak mau diberi. Semangat yang ingin merebut.
Ketika Soekarno menjawab, “Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga!”—saat itu, semangat rakyat juga sedang berbicara. Semangat yang berani. Semangat yang tidak takut. Semangat yang siap berkorban.
Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah. Ia bukanlah pemberian. Ia bukanlah instruksi. Ia adalah hasil dari semangat rakyat yang telah tumbuh selama puluhan tahun. Dari Sumpah Pemuda 1928. Dari pemberontakan-pemberontakan di Singaparna, Indramayu, Cepu, Bondowoso. Dari PETA di Blitar. Dari rapat-rapat pembangkangan para pemuda.
Jepang membentuk BPUPKI. Jepang membentuk PPKI. Jepang memberikan instruksi, tetapi rakyat yang mengisi. Rakyat yang memberikan jiwa. Rakyat yang memaksa perubahan. Ia menjeritkan bahwa koperasi bukanlah proyek. Ia bukanlah program. Ia bukanlah Inpres. Ia adalah gerakan. Gerakan rakyat. Gerakan yang tumbuh dari bawah. Gerakan yang lahir dari kesadaran bahwa kita bisa.
KUD adalah monumen kegagalan karena ia bukan gerakan. Ia adalah instruksi. Ia adalah proyek. Ia adalah program yang ditanamkan dari atas, tanpa akar, tanpa jiwa, tanpa semangat.
Keling Kumang adalah bukti bahwa gerakan itu mungkin. Ia lahir dari dua belas orang yang duduk bersama, minum kopi pahit, dan berani berkata, “Saya butuh bantuan.” Ia lahir dari jawaban, “Kami siap membantu.” Ia lahir dari semangat rakyat yang tidak mau menyerah.
Dengarkan. Dengarkan baik-baik. Di Taos Pueblo, nenek moyang berkata, “This land was the land of our great waters. The beating heart of nature flowing through time.”
Di Nusantara, nenek moyang kita juga berkata, “Bumi, air, dan kekayaan alam adalah milik bersama. Ia adalah warisan leluhur. Ia adalah titipan untuk generasi mendatang.”
Semangat itu tidak mati. Ia hanya tertidur. Ia tertidur di bawah lapisan beton pembangunan. Ia tertidur di bawah tumpukan dokumen birokrasi. Ia tertidur di bawah kebisingan janji-janji politik. Namun, ia tidak pernah benar-benar hilang. Ia menunggu. Ia menunggu untuk dibangunkan. Ia menunggu untuk dinyalakan kembali.
Keling Kumang adalah bukti bahwa semangat itu masih hidup. Ia masih menyala. Ia masih mampu menggerakkan dua ratus ribu orang. Ia masih mampu membangun ekosistem yang melayani dari lahir hingga lanjut usia.
The Hollering Sun. Matahari yang menjerit. Ia menjeritkan bahwa kita perlu kembali ke akar. Ke handep. Ke hidop barentin. Ke mapalus. Ke gugur gunung. Ke sasi. Ke pela gandong. Ke semua kearifan yang telah kita lupakan.
Ia menjeritkan bahwa koperasi bukanlah tentang struktur. Bukan tentang modal. Bukan tentang SHU. Koperasi adalah tentang semangat, tentang api, tentang rakyat yang bangkit dan berkata, “Kita bisa.”
Saya memikirkan Ibu Maria. Saya memikirkan dua belas orang di Tapang Sambas. Saya memikirkan mereka yang meletakkan uang mereka di atas meja—bukan sebagai investasi, tetapi sebagai kepercayaan.
Saya memikirkan Wikana yang mengancam akan ada pertumpahan darah. Saya memikirkan Soekarno yang menawarkan lehernya. Saya memikirkan Hatta yang bertanya dengan tajam, “Mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri?”
Semua itu adalah semangat. Semangat yang tidak mau menunggu. Semangat yang tidak mau diberi. Semangat yang ingin merebut. Semangat yang ingin membangun.
Koperasi sebagai gerakan rakyat harus memiliki semangat yang sama. Ia tidak boleh menunggu Inpres. Ia tidak boleh menunggu instruksi. Ia tidak boleh menunggu proyek. Ia harus merebut. Ia harus membangun. Ia harus menjadi gerakan.
Nancy Wood menulis, “Listen, my brother. My words are those of dead generations and of generations still to be. My words I give to you. The meaning is for you to find.”
Dengarkan, saudaraku. Kata-kata saya adalah kata-kata generasi yang telah mati dan generasi yang akan datang. Kata-kata saya berikan kepadamu. Maknanya untuk kamu temukan.
Kata-kata koperasi juga seperti itu. Kata-kata tentang kekeluargaan, tentang gotong royong, tentang usaha bersama. Kata-kata yang telah mati di mulut kita, tetapi masih hidup di tanah, di sungai, di hutan, di dalam cerita-cerita yang kita lupakan.
Maknanya untuk kita temukan. Bukan untuk diimpor. Bukan untuk dipaksakan. Tetapi untuk ditemukan—di dalam diri kita sendiri, di dalam sejarah kita sendiri, di dalam cara kita memahami dunia.
The Hollering Sun. Matahari yang menjerit. Ia menjeritkan bahwa kita perlu menanam. Bukan merakit. Merawat. Bukan mengontrol. Melayani. Bukan memerintah.
Ia menjeritkan bahwa koperasi adalah pohon. Ia memiliki akar. Ia memiliki batang. Ia memiliki daun. Ia memiliki buah. Ia memiliki biji yang akan tumbuh menjadi pohon baru.
Akar adalah nilai. Batang adalah kelembagaan. Daun adalah resonansi eksternal. Buah adalah lompatan. Biji adalah regenerasi.
Lalu, semangat rakyat? Semangat rakyat adalah getah. Ia mengalir ke seluruh bagian pohon. Ia membawa informasi genetik yang sama. Ia memastikan bahwa daun di ujung ranting tetap menjadi bagian dari pohon yang sama.
Dengarkan. Dengarkan baik-baik. Matahari masih menjerit. Di Taos Pueblo. Di Tapang Sambas. Di seluruh Nusantara. Matahari menjerit bahwa ada cara lain. Bahwa keteraturan bukan takdir. Bahwa kepercayaan bisa dibangun. Bahwa solidaritas bisa dirawat. Bahwa koperasi bisa hidup.
Matahari menjerit bahwa kita perlu menjadi gerakan. Bukan proyek. Bukan program. Bukan Inpres. Gerakan.
Gerakan yang lahir dari rakyat. Gerakan yang dikelola oleh rakyat. Gerakan yang bertujuan untuk rakyat.
Gerakan yang tidak menunggu izin. Gerakan yang tidak menunggu instruksi. Gerakan yang tidak menunggu proyek.
Gerakan yang merebut. Gerakan yang membangun. Gerakan yang berkata, “Kita bisa.”
The Hollering Sun. Matahari yang menjerit. Ia menjeritkan bahwa dua belas orang bisa menjadi dua ratus ribu. Ia menjeritkan bahwa Rp 291.000 bisa menjadi Rp 2,3 triliun. Ia menjeritkan bahwa ruang empat kali empat meter bisa menjadi ekosistem yang melayani dari lahir hingga lanjut usia.
Ia menjeritkan bahwa semangat rakyat tidak pernah padam. Ia hanya menunggu untuk dinyalakan. Ia hanya menunggu untuk dibangunkan. Ia hanya menunggu untuk menjadi gerakan.
Dari Kalimantan untuk Indonesia. Dari Indonesia untuk dunia.
Cooperative minds are quantum minds dan pikiran kuantum adalah pikiran yang mendengar matahari menjerit. Pikiran yang memahami bahwa semangat rakyat adalah api yang tidak pernah padam. Pikiran yang percaya bahwa koperasi bisa menjadi gerakan.
Gerakan rakyat. Gerakan semangat. Gerakan yang membangun peradaban baru.
***
Judul: Semangat Rakyat, Api yang Tak Pernah Padam: Sebuah Renungan tentang Gerakan Koperasi dari Akar Nusantara
Penulis: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.
Editor: Asep (HC) Arie Barajati






