ASEP NEWS, Rubrik OPINI, Selasa (03/03/2026) – Esai berjudul “Kanibalisme Moral” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, kita semua—seluruh homo sapiens di muka bumi —berasal dari rahim yang sama: tanah purba di Afrika.
Dari sabana berdebu, dari jejak pertama di tanah merah, nenek moyang kita menatap cakrawala dan berjalan—menyeberangi gurun, menyusuri pesisir, menantang es dan badai.
Jalur migrasi berbeda, warna kulit berubah, bahasa bertunas, adat tumbuh seperti cabang-cabang pohon yang menjulang ke langit. Namun akarnya tetap satu.
Mengapa di antara cabang-cabang itu saling melukai, seolah lupa pada akar yang sama? Bukankah darah di balik segala warna tetap merah? Bukankah tangis bayi di mana pun bernada serupa?
Dari satu ibu purba kita berkembang banyak dan berbeda. Mengapa “berbeda” menjadi alasan untuk memusuhi? Mengapa kemenangan dirayakan ketika nyawa direnggut, dan sejarah memajang kematian seperti trofi?
Barangkali karena ketakutan sering disamarkan sebagai kebanggaan, dan kekuasaan tanpa nurani membenarkan apa pun. Yang kuat merasa sah menundukkan yang lemah, seolah kekuatan adalah kebenaran. Kejayaan dibangun di atas kehancuran, reputasi ditegakkan di atas penderitaan—di sinilah kekerasan berubah menjadi kanibalisme moral: saudara melukai saudara demi nama dan kuasa.
Mungkin karena kita terlalu sering memuja hasil dan melupakan harga. Terlalu sering mengagungkan pemenang dan membisukan yang kalah. Kita lupa bahwa setiap “musuh” adalah anak dari rahim kemanusiaan yang sama.
Kita tidak bisa mengubah fakta bahwa manusia pernah saling membunuh. Tapi kita bisa bertanya—dengan jujur, dengan lirih, dengan keberanian moral—apakah kita ingin terus mewarisi semangat saling membunuh yang bisa memusnahkan kemanusiaan itu sendiri. Mungkin sudah saatnya kita belajar melangkah kembali—bukan menjauh satu sama lain, melainkan saling mendekat.
***
Judul: Kanibalisme Moral
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Asep (HC) Arie Barajati
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.
***












